Dua Dunia

assalamu’alaikum

selamat pagi dunia !

jalanan kali itu penuh sesak, penuh dengan orang-orang dengan berbagai tujuan, entah itu hanya melihat-lihat saja, menawar, atau sedang mencari-cari sesuatu di tangannya yang penuh dengan brosur berbagai macam produk, suara bising yang dihasilkan dari mulut para MC yang sedang berpromosi membuat situasi semakin berisik dan mengganggu telinga.

belum lagi soal brosur, promosi antar merek yang masing-masing berusaha menjual produknya sebanyak mungkin membuat para pembeli menjadi bingung karena banyaknya brosur yang di tawarkan, bayangkan saja, setiap berjalan beberapa meter bisa dipastikan ada seorang SPG bermake-up tebal yang menjejali pembeli dengan brosur di tangannya atau bahkan ajakan untuk melihat-lihat lebih dalam ke stand mereka.

begitulah suasana di salah satu pameran IT yang di klaim sebagai yang terbesar di Indonesia itu. suasana yang penuh dengan kebisingan dan suara-suara yang memekakkan telinga,

belum lagi pemandangan “indah” yang dipertontonkan secara gratis oleh mereka, bagaimana tidak, wajah oriental cantik dengan kaus ketat tanpa lengan yang terkadang agak transparan, dipadu dengan rok mini dan sepatu hak tinggi, serta rambut yang tergerai bebas, pria normal mana yang tahan dengan godaan semacam itu.

sebuah ironi yang aneh ketika mereka hanya dipakai untuk menarik pengunjung ke dalam stand mereka, dan anehnya mereka dengan ikhlas menjalani pekerjaan seperti itu, mereka hanya diperlakukan sebagai alat dan tontonan belaka, alangkah dangkalnya peran semacam itu.

kebetulan, saya teringat ada pameran yang lain pada hari yang sama di sudut lain senayan, dengan langkah pasti saya arahkan kaki menuju pameran itu, ternyata lumayan jauh juga jarak yang harus ditempuh untuk mencapai pameran itu, butuh sekitar sepuluh menit kurang untuk menuju kesana.

setelah sampai di gerbangnnya saya segera masuk kedalam untuk mengunjungi pameran itu. dus, selain disambut oleh hembusan AC yang menerpa tubuh, saya juga disambut oleh alunan nasyid yang sudah lama sekali saya tidak mendengarnya.

kibaran jilbab, gamis, dan baju koko dengan berbagai model bergantian lewat di depan saya, tak lupa jenggot lebat dan tipis serta cadar juga tersedia, meski tak terlampau signifikan.

semakin dalam saya masuk, saya menemukan tumpukan buku-buku yang dijual dengan harga yang selalu mendapat diskon. entah itu sepuluh persen sampai pada buku yang didiskon delapan puluh persen ! sebuah jumlah diskon yang mencengangkan.

ditambah dengan pemutaran film-film bertema perjuangan, entah itu bersetting palestina nan berbatu, atau afghan yang membara, atau bahkan bersetting di arab saudi dengan ka’bahnya sebagai sentral. juga ada alunan suara merdu para qori yang sedang membacakan kalam ilahi yang selalu menjadi inspirasi jutaan penulis di seluruh dunia yang juga tak pernah lekang dimakan masa.

sayang saya harus mengakhiri kunjungan itu karena mendapat telepon untuk segera kembali ke rumah, setelah sebelumnya memborong buku-buku untuk orang rumah dan saya sendiri. iseng-iseng dijalan saya kembali berpikir tentang dua pameran yang baru saja saya kunjungi.

sebuah potret nyata dunia yang lalu dan saat ini. dua buah dimensi yang akan selalu bertentangan satu dengan lainnya. dua buah dunia yang terpisah oleh hijab abadi, bernama al-haq dan al-bathil. tinggal bagaimana kita menyikapinya. mau ikutan mainstream dunia pertama, atau ikut jalan sempit dunia kedua ? semuanya terserah anda.

wassalam 

al-fakir ad-dhaif

alkindi

~ oleh varendy di/pada Maret 12, 2007.

2 Tanggapan to “Dua Dunia”

  1. ceritanya menarik dan beralur, cukup menggugah pemikiran dan tema dan maksud yang ingin disampaikan sudah tersampaikan

    nilai Hm…. keren he he he

  2. to rachmat : cuma keren aja? wah kecewa nih gue. nilainya donk brur! dari skala 0-10, coba kasih nilai lagi, wollen sie bitte?

Tinggalkan Balasan