A Blazt From The Pazt
assalamu’alaikum
selamat siang dunia !
hari itu langit terlihat cerah, matahari bersinar dengan riangnya, hari sudah akan beranjak dewasa, embun pagi telah digantikan dengan celoteh manusia yang nampaknya sedang dalam proses menuju puncak aktivitasnya.
saya memulai hari dengan malas, memang tak seharusnya seorang muslim bersikap seperti itu, namun aktivitas saya yang berlangsung sampai jam 11 malam membuat badan saya tak mau dibangunkan dari istirahatnya. kulirik jam dinding kamar yang kini menunjuk ke angka sepuluh. ups, saya harus bergegas, ada pertemuan yang harus dihadiri.
hari ahad itu tirai pertemuan pertama FLP Bekasi anggota muda baru saja disibak. sebuah episode baru menyeruak kepermukaan. pertanyaan besarpun terpampang dihadapan. apakah anggota muda yang baru dilantik akan bertahan ? atau malah layu dan meranggas mati ? kutepis buru-buru anggapan tak penting itu. kugegaskan langkahku menuju ke markas sementara kami. sebuah rumah tuhan di pelataran rumah ilmu.
ternyata tepat seperti yang saya bayangkan. pukul sebelas saya tiba, tapi yang saya hadapi hanya masjid yang sepi dan seorang kawan. mungkin memang sudah menjadi budaya bagi bangsa ini untuk hadir terlambat dan tidak menepati janji. ups, tak baik bersuudzon, mungkin mereka sedang ada urusan yang lebih penting, tangkisku cepat, akhirnya dengan susah payah saya buang jauh anggapan negatif itu.
alhamdulillah sehabis shalat dzuhur orang2 yang saya tunggu mulai bermunculan satu persatu. ketika jam mulai berdentang satu kali, acara kami siap dimulai, tiba-tiba sang ketua umum FLP bekasi menghampiri saya,
“ren kamu mau ikut di acara muda ataqu pra-muda”
“maunya sih di muda aja, emang ga ada orang di pra-muda?”
“nggak ada ren, ya udah kamu aja deh yang jadi moderator”
“ya udah deh”
begitulah, akhirnya saya didaulat menjadi moderator untuk acara pra-muda meski kalau disuruh memilih saya lebih suka menjadi peserta dalam acara muda. okelah tak perlu disesali, do the best aja kali ya, pikir saya cepat.
acara pun dimulai, para peserta pra-muda mulai mengenal sosok saya dan narasumber saya, seorang penulis muda yang lumayan produktif sudah tujuh belas buku berhasil diterbitkannya. acara pun mengalir bagai air. seusai acara para peserta terlihat puas dan bersemangat dalam mengarungi gerbang tantangan pertama mereka sebagai penulis.
begitupun saya, semangat menulis yang sempat kendur akhir-akhir ini kembali membara. rupanya memang sudah garis takdir saya agar saya tidak ikut di acara muda dan malah menjadi moderator dalam acara pra-muda. itulah yang terbaik bagi saya, belum tentu ketika saya iktu dalam acara muda saya akan mendapatkan semangat itu lagi. sayapun tersenyum simpul.
satu hari setelah kejadian itu saya berpikir, betapa sungguh kuasanya sang Khalik, dan ternyata benar firman-Nya. bahwa segala sesuatu yang kita tidak sukai belum tentu buruk buat kita, dan begitu sebaliknya, segala sesuatu yang kita sukai belum tentu baik untuk kita.
wassalam
al-fakir ad-dhaif
varendy


Alhamdulillah, sobatku yg satu ini sudah mulai menapaki sedikit demi sedikit jalan untuk menjadi penulis.
Antum adalah calon penulis besar ren..
Jadi moderator? dengan semangat dan ghirah yang masih menyala??? Subhanallah.. coba ana ada di situ…
Ren, doakan aja ana dapat mengikuti jejak antum…
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(Qs. Al Baqarah (2) : 216)
yah gini2 aja sih pak. calon penulis besar, aamin banget deh kalo gitu do’anya. ah ga usah terlalu berlebihan gitu pak, cuma jadi modereator biasa aja kok. he3x. cepet2 deh jadi penulis, biar tambah banyak yang nemenin saya disini. he3x.