Egos On The Road
assalamu’alaikum
selamat sore dunia !
pagi hari, kota bekasi nampaknya masih enggan bangun dari tidurnya meski beberapa manusia nampak sudah bersiap berangkat mencari seuntai berkah ilahi untuk menjamin kehidupan keluarganya.
kendaraan kami segera bertolak dari kediaman kami, meninggalkan kasur yang empuk dan dengkur keluarga dibelakang. menyusuri jalan baru, nampak lalu lintas bekasi masih lengang meski beberapa kendaraan dengan tujuan yang mungkin hampir serupa kami mulai berbagi ruang di jalan.
hendak kami membelok ke jalan kecil menuju kalimalang. tiba-tiba dari belakang sebuah sepeda motor menerobos, sontak bapak menginjak rem, dan kendaraan kami terhenti kontan, alhamdulillah kami tak sampai mencelakai pengendara itu, namun ia membalas dengan acungan tangan dan teriakan tanda marah. lho, apa salah kami ? bukankah dia yang memaksa menerobos ? sedangkan kami sudah jauh-jauh memberi lampu sein ? sudahlah, tak perlu dibahas soal ini, pikir saya cepat. kendaraan kamipun terus melaju, kulihat jalanan di depan kami lancar.
hal itu berarti perjalanan saya ke kantor akan lancar pula, ups, ternyata tidak juga, begitu sampai di jalan menuju tol barat, antrian kendaraan nampak sudah menunggu giliran untuk melaju ke jalan bebas hambatan itu. apa saya harus bangun lebih pagi lagi ? pikir saya dalam hati.
namun di sisi lain hati saya lega, karena ini berarti saya akan tiba di kantor tepat waktu, tidak terlalu cepat, karena biasanya saya bingung kalo tiba terlalu cepat di kantor. mau kerja belum waktunya, mau kemana-mana juga sulit karena tak ada kendaraan.
meski macet pada pintu tol barat ternyata setelah kami melaju di tol, seratus delapan puluh derajat perbedaan terjadi, lalu lintas memang agak padat, namun kami tetap bisa melaju, meski tak seoptimal yang kami bisa.
alhamdulillah kami sampai juga di salemba, dan kembali kami dihadang oleh kemacetan, entah regulasi apa yang harus dibuat pemerintah DKI untuk menekan laju kemacetan yang saya rasa makin lama makin parah saja.
entah darimana asalnya, sebuah motor kembali memotong jalan kami dengan seenaknya, untuk kali kedua, kendaraan kami harus menahan lajunya dengan segera. namun kali ini bukan pengemudi motor yang meradang, namun bapak saya yang harus termuntahkan amarahnya, wajar sih, dua kali kejadian yang hampir serupa dalam satu jam, tak pelak akan membuat ia meradang.
saya jadi teringat keluhan seorang teman, bahwa kendaraan roda dua sudah dengan seenaknya berlaku dijalanan ibukota, yang seringkali memaksa pengemudi mobil untuk menagalah, agar tidak disalahkan. tapi tidak dengan teman saya ini, ia lebih memilih untuk menabrak saja apabila ada motor yang slonong boy alih-alih mengalah.
pada awalnya saya menganggap angin lalu pendapat itu, namun fakta telah berbicara pada saya, dua kali dalam sejam saya disuguhi aksi nyata pengemudi roda dua yang meresahkan.
begitulah ketika ego dan amarah berkuasa di jalan dibandingkan dengan kesabaran dan ketenangan, selalu ingin jadi yang terdepan namun merugikan pengendara lain. mungkin benar apa kata sebuah survei oleh majalah readers digest beberapa waktu lalu. bahwa masyarakat indonesia sebagian besar adalah pemarah. sebuah cermin jiwa sebagian masyarakat indonesiakah ?
wassalam
al-fakir ad-dhaif
alkindi


Tinggalkan Balasan