Sebuah Kisah Dari Timur Jakarta . . .

Assalamu’alaikum 

Selamat sore dunia !

Hari itu ahad pagi, saya dan dayat sudah menunggu di jalan baru, sedang menunggu empat orang teman lagi, kami berniat untuk meninggalkan Jakarta sejenak untuk menyegarkan pikiran kami yang sudah seringkali tertekan dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Istilah kerennya refreshing. Kebetulan seorang dari kami mengundang untuk hadir pada selamatan empat puluh hari kelahiran putra pertama pamannya. Klop lah sudah, niat sudah ada dan kemudian tujuan menyusul dibelakangnnya. Akhirnya kami putuskan untuk refreshing ke rumahnya di timur Jakarta. Kebetulan kami juga sudah lama tidak berkumpul dan jalan-jalan bersama. here we go !

Lama menunggu, mereka belum juga datang, huh dasar orang Indonesia tulen, heran juga ya, kenapa sih orang indonesia selalu punya kebiasaan ngaret yang akut, -jadi teringat salah satu kata-kata dosen saya dulu, bahwa hanya ada dua bangsa di dunia ini yang mempunyai kebiasaan ngaret akut, yaitu Indonesia dan Hawaii- padahal begitu terbatasnya waktu yang dipunyai manusia. Sedangkan terlalu banyak kegiatan yang harus dilakukan.

Ah daripada ngomel tak tentu arah, kenapa tak kubaca saja buku yang baru saja kubeli di pameran buku yang tak lama lalu usai. The True Power Of Water Judulnya, karya luar biasa dari seorang peneliti jepang, Masaru Emoto namanya. Bercerita tentang kekuatan sejati air, yang ketika diberikan rangsang positif maka ia akan merespon dengan membentuk kristal yang sangat indah, dan begitu sebaliknya. Hal yang hampir pasti bisa berlaku pada tubuh manusia, yang kebetulan 70% bahan pembentuknya adalah air. Sebuah bukti medis atas pentingnya ajakan berpikir positif.

Lama menunggu dan buku yang telah berpindah tangan ketangan dayat membuat saya bengong, angin yang sepoi-sepoi bertiup membuat kantuk kembali menyerang, dan sayapun tertidur, sampai tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara bising. Ternyata keempat teman saya sudah berdiri di depan mata. Dan kamipun segera berlalu menaiki bus menuju subang.

Perjalanan cukup jauh, penumpangpun ada sekitar delapan orang yang tidak mendapat tempat dan terpaksa berdiri, sampai akhirnya setelah dua jam perjalanan, il sete magnifico alias kami bertujuh sampai di pintu tol sadang. Sempat terjadi deadlock akan menuju kemana, karena kami bertujuh baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu. Tapi hal itu dapat diselesaikan dengan baik setelah menelepon supri, -teman kami yang mengundang-. Dan angkutan kota bercat biru bernomor empat tiga itupun melaju kencang.

Kami tiba di bungursari, desa seribu rambutan, -ini julukan yang saya berikan, karena hampir seluruh penduduk desa ini punya minimal satu pohon rambutan di halaman rumahnya- setelah sempat bermain petak umpet dengan rinai hujan yang ramah. Kami bertujuh dikejutkan dengan sambutan ramah penghuni rumah, khas masyarakat desa yang biasanya masih memegang erat adat kekeluargaan. Yang senang ketika ada tamu berkunjung meski seringkali membuat mereka meluangkan energi ekstra. Kamipun masuk dan berbincang dengan ayah supri.

Ternyata hajatan yang diberitahu teman saya sudah selesai, memang sih sewaktu kami datang para tetangga sedang membereskan panggung sisa hajatan kemarin. Beliau juga bercerita tentang bagaimana adat masyarakat di desa ini yang selalu saling membantu bila ada tetangganya yang hendak berniat hajatan. Kaum ibu menjalankan tugasnya sebagai ratu rumah tangga dengan acara masak bareng, ada yang membawa beras, ayam, cabai, bawang, pisang atau bahkan rambutan, untuk kemudian mengolah dan mengerjakannya bersama-sama. Sementara kaum bapak yang memang dikaruniai oleh kekuatan fisik ikut berperan, meraka bergotong-royong membangun panggung, ada yang mengetok papan, mendesain panggung, mengecek sound system, memasang atap, menggotong besi atau menggergaji. Mereka semua datang tanpa diberitahu, dan membantu tanpa mengharap pamrih. Sementara anak-anak terlihat sumringah menanti datangnya hari. Mereka seringkali berlarian di sekitar lokasi yang masih dipenuhi pepohonan rindang sambil berteriak-teriak. Jadi teringat cerita ibu ketika beliau masih tinggal di Medan. Sama persis dengan yang diceritakan oleh ayah supri. Suasana yang sangat saya dambakan, yang entah kenapa saya cukup pesimis akan terulang di Jakarta, menurut saya rasanya agak mustahil untuk dapat melihat peristiwa seperti itu di Ibukota nan makin angkuh.

Adzan tiba membuat kami harus bergegas memenuhi panggilannya. Seusai itu kami dijamu dengan panganan khas desa, nasi panas yang mengepul, ikan mujair bakar yang dilumuri kecap manis dan bumbu lainnya, ikan teri dan orek tempe yang dicampur dengan bumbu gurih, sayur asam yang maih hangat, dua tipe sambal alami, pedas-manis dan asam-pedas, juga dilengkapi dengan selada dan kol segar yang nampak menantang dengan bulir-bulir air yang masih menempel diatasnya, belum lagi teh hangat dan air putih yang melengkapi, tak lupa elemen penting dalam sajian khas sunda, sebuah kobokan tempat cuci tangan. Tak ayal air liur sayapun hendak meloncat keluar, seolah terburu-buru ingin bergumul dengan sedapnya hidangan di depan saya. Entah kenapa perut ini sepertinya tiba-tiba saja kosong, Tanpa menunggu disuruh, kami bertujuh segera menyerbu sajian itu, bak seorang prajurit yang hendak menyerbu musuhnya. Selesai makan kami disuguhi sekeranjang penuh rambutan, babak kedua pun dimulai, setelah bertarung beberapa masa dengan buah yang punya intensitas cairan yang banyak itu, kami berhasil menuntaskan misi kedua, alhasil sekeranjang penuh rambutan segar berubah wujud menjadi tinggal kulitnya saja. Pertarungan itu kembali harus diakhiri karena adzan kembali bergaung. Kamipun segera menyambutnya dengan suka cita.

Sore hari tiba, setelah beristirahat dan mandi, supri hendak membeli sesuatu di kota, saya, yayat dan ami tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, kami berempat segera pergi untuk menemani sekalian putar-putar kota. Perjalanan dimulai dengan menyusuri jalanan desa yang berbatu, menembus belantara hutan yang masih perawan, menyusur pematang sawah, melirik hamparan karpet alami nan menghijau, melongok langit dengan awan berarak, melontarkan imaji, sontak saya teringat tentang sebuah lagu lama,

Manalagi . . . Negeri Seindah Ini

Anugrah Ilahi

Kenikmatan Abadi Walau Beragam BudayaBersatu Dalam Cita

Berjuta Rasa Keindahan

Yang Engkau Persembahkan 

Duh gusti, maha besar engkau, betapa maha kuasa engkau, yang telah mencipta semua ini dengan detil sempurna tanpa cacat, alangkah kecilnya hamba nan seringkali melampaui batas ini, tak pantas rasanya sombong itu tersirat di hati, walau hanya sebesar biji sawi. Ya Tuhan, ampuni daku dengan rahmat-Mu yang membentang tak berliku. Seuntai pujian dan syukur kepada-Nya pun terlontar begitu saja. Tak terasa malampun datang dan haripun berlalu. Kedelapan sosok manusia nan kerdil di mata-Nya itu pun terlelap seiring pekatnya malam.

Pagi hari, kicau burung yang riang mengawali pagi yang cerah, denyut kehidupan desa yang lambat nampak menyatu dengan alam yang sepertinya juga mengamini. Kucoba hirup udara, oksigen nan perawan mengisi relung paru-paruku. Ah segar !. Suasana tenang, damai dan alami membuat kami semua malas untuk beranjak meninggalkan matras empuk. Di batavia, saya takkan pernah bisa merasakan pagi nan damai seperti ini, pukul enam pagi harus berangkat, ketika sang mentari nampak masih malas untuk terbit, dan pulang ketika sang mentari nampak sudah lelah melaksanakan tugasnya. Pulul setengah sepuluh baru seluruh kami siap, agenda kali ini adalah mencari sarapan sambil melongok desa nan asri.

Kami berhenti di tengah hutan nan rindang dan sejuk, berniat untuk sarapan disana. Sekali lagi kebersamaan menunjukkan kekuatannya. Makanan desa yang sederhana terasa lebih nikmat ditengah situasi yang nyaman dan indahnya kebersamaan. Kami berdelapan makan dengan lahap. Kenapa ya, makanan sunda dan suasana desa selalu menggugah selera makan, meski panganan yang ditawarkan tak jauh beda dengan panganan yang biasa disediakan oleh restoran masakan sunda. Mungkin inilah salah satu bukti bahwa manusia dan alam adaah satu dan saling melengkapi, soalnya ketika hal itu terjadi maka sinergi akan terbentuk dan apa yang kita makan terasa enak. Mungkin lho, itu baru pikiran iseng saya aja. Dzuhur kembali datang mengetuk pintu hati kami.

Seusai melaksanakan kebutuhan, kami bersantai sejenak sebelum bersiap packing kembali ke Jakarta. Sebagian dari kami menonton TV, sementara sebagian yang lainnya memilih buku sebagai partnernya. Lalau datang seorang anak kecil membawa seekor kera. Semula saya sangat takut akan kedatangannya, namun rasa penasaran saya mengusik saya untuk mengalahkan rasa takut itu, perlahan saya dekati monyet itu dengan terlebih dahulu mengedepankan dalam pikiran bahwa saya bukan ingin menyakitinya, namunsaya hanya ingin bermain dengannya, berhasil ! akhirnya saya malah benar-benar bermain dengan kera bernama asep itu.

Meski ia terkadang nakal dengan naik ke kepala saya, atau menggigit tangan saya, saya tak merasa risih, toh saya yakin ia hanya bercanda, buktinya ia tidak menggigit dengan gigitan yang keras, namun seperti gigitan lembut mengajak bermain, pun begitu ketika ia naik ke kepala saya, ia nampak tidak ingin menyakiti saya. Malah dengan santainya ia meneliti kepala saya, seperti hendak mencari kutu dan memakannya. Sayangnya saya bukan tipe pria yang berkutu. Satu  teori kembali terbukti, bahwa bahasa kasih-sayang dan kelembutan merupakan sinyal universal yang bahkan seekor monyetpun bisa mengerti, dan juga pikirin positif ternyata bisa menular kepada seluruh makhluk, sekalipun ia hanya seekor monyet, mungkin ini ada hubungannya dengan teori air Masaru Emoto tadi.

Jam dinding sudah berdentang sebanyak satu kali, waktu untuk kami disini rupanya telah habis, kami harus pulang ke Jakarta kalau masih ingin punya waktu istirahat sejenak. Akhirnya kata perpisahan mau tak mau harus terucap, kami sangat berterimakasih terhadap servis luar biasa dari seluruh penghuni rumah, yang seringkali membuat kami merasa tidak enak karena terlalu dihormati, dan selalu dilayani, padahal kami hanya tamu biasa. Diiringi kata pamit, kamipun bersegera meninggalkan tanah timur Jakarta, suatu memori indah kembali terekam dalam benak saya, tersirat satu keinginan kuat dalam hati, bagai sebuah lirik lagu yang penuh semangat, Purwakarta, Kami Akan Kembali !

Wassalam

Al-fakir ad-dhaif

-Alkindi-

~ oleh varendy di/pada Maret 22, 2007.

Tinggalkan Balasan