Love Is Free

Assalamu’alaikum

Selamat Siang Dunia !

Siang hari itu mentari bersinar dengan teriknya. Nampak seperti hendak membakar seluruh kota bekasi yang sedang berada dalam puncak aktivitasnya. Hari ini merupakan hari penilaian, hari dimana siswa yang mendapatkan nilai baik di buku rapornya akan disanjung dengan berjuta pujian dari orang tuanya, bahkan tak jarang para orangtua memberikan hadiah khusus atas keberhasilan putra/i tercintanya, dari sepeda mini sampai , namun sepeda dengan motor pun tak jarang diberikan.

Namun keadaan akan sangat berbeda jika nilai yang muncul adalah noda merah.  Cacian, hukuman tak boleh main PS, bahkan kurungan rumah pun bisa jadi diperlakukan segera. Tak terbayang respon para orangtua jika yang muncul di buku tersebut adalah kata-kata “tidak lulus” atau “tidak naik kelas”. Ah, dunia modern memang selalu memperlakukan manusia dengan deretan angka-angka, jika dalam buku rapor tertulis angka yang tinggi maka itu merupakan parameter bahwa derajat pendidikan yang diterapkan di sekolah itu sudah baik.

Segala standar pun diterapkan untuk mencapainya, entah itu berbahasa sekolah standar nasional, atau berlabel sekolah internasional. Namun entah tak sadar atau sengaja tak sadar, sebuah mata rantai yang ternyata krusial telah hilang, rupanya mereka menghiraukan bagaimana proses terjadinya nilai tinggi tersebut. “Tak peduli moral, yang penting nilai terkatrol, dengan demikian sekolah kita akan dapat menaikkan bayaran” mungkin begitu pola pikir sebagian kecil pemilik sekolah. Tinggal para orangtua yang kembali menjerit karena biaya hidup terus meroket tinggi.

Nampaknya hal itu belum menjadi pikiran bagi sepasang suami istri yang siang itu sedang berada dalam antrian panjang kendaraan. Pintu jalan raya bebas hambatan di bagian timur kota bekasi itu siang itu memang nampak sangat ramai. Riuh rendah klakson bus dan monster roda empat bersahut-sahutan bak sebuah racing moto GP. Meskipun hal itu merupakan kondisi normal sehari-harinya. Nampaknya kombinasi sempurna dari panas dan bebunyian nan berisik itu berhasil mengusik ketenangan sang istri, sementara sang suami nampak sudah terbiasa dengan hal itu meski mau tak mau ia juga terlihat menggerutu dalam diamnya.

Kendaraan yang mulai merangsek maju membuat motor saya turut berpindah seiring dengan arus lalu lintas. Dengan usaha yang ekstra saya berhasil mensejajarkan motor saya dengan motor pasangan suami istri itu, ah ternyata mereka bukan hanya berdua, namun bertiga. Rupanya ada si junior kecil berada di pelukan sang bunda. Ia mampu tertidur pulas ditengah cuaca yang sangat tak bersahabat.

Kemudian terjadilah sebuah kejadian yang melatarbelakangi saya menuliskan tulisan ini. Sang anak yang mulai terusik dengan panas kota bekasi mulai menggeliat bangun dari tidur pulasnya, nampaknya ia sangat tak rela ditarik paksa ke dunia nyata. Setelah lama terbuai dengan manisnya dunia mimpi. Sang ibu langsung bereaksi spontan, pelukannya mulai dipererat dan posisi sang anak diperbaiki agar dia merasa lebih nyaman. Gerakan sang ibu membuat ayah bertanya-tanya.

Pertanyaannya langsung terjawab ketika ia menoleh kebelakang. Setelah berbincang sejenak dengan sang ibu, ia tanpa disuruh segera melepaskan jaketnya, yang kemudian ia serahkan kepada istrinya. Lalu istrinya dengan cepat segera menyelimuti tubuh sang putri tersayang, total seluruh tubuh sang putri mungil segera terselubung, bahkan ia merapikan jaket sang ayah sehingga benar-benar menutupi tubuh putrinya, dari kepala sampai kaki, dan juga tak lupa tangannya.

Senyum saya kontan segera merekah, beserta dengan sebuah perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di hati yang mulai beriak. Sebuah pelajaran hidup kembali dating menghampiri saya, ternyata dibalik suasana dunia yang terus carut-marut, masih ada cinta yang tulus terkandung di dalamnya. Cinta sang ayah dan ibu tadi benar-benar tulus ikhlas tanpa mengharap suatu apapun. Cinta yang mampu menggemuruhkan hati seorang pemuda fakir nan dhaif seperti saya.

Cinta yang seperti ini mungkin serupa dengan cinta sang pencipta, ah tidak, cinta sang khalik pasti takkan bias tertandingi oleh cinta makhluk ciptaan-Nya. Cinta-Nya pasti lebih murni dari embun dan lebih sejuk dari mata air pegunungan. Atau mungkin cinta seperti ini yang memenuhi relung hati sang nabi pengemban risalah dakwah, Muhammad SAW? Kemungkinan besar memang ya, meski kadarnya bisa jadi tak setulus kadar cinta beliau.

Ah, Saya mengerti sekarang. Rupanya cinta model seperti inilah yang mampu menggerakkan otot dan otak Khalid di medan perang, cinta seperti ini pula yang memacu adrenalin Al-Fatih untuk membebaskan konstantinopel. Cinta ini pula yang memompa hati dan otot tangan bocah palestina untuk melontarkan bebatuan kepada penjajah yang.lebih kejam dari bangsa mongol.

Cinta yang berasal dari relung hati yang terdalam, yang dipenuhi aroma ketulusan, dan bumbu keikhlasan ternyata mampu menggerakkan seluruh sendi tubuh kita dan diwaktu yang bersamaan, ia menyebarkan energi yang serupa kepada sesama manusia. Ya, “Love is Free”, Cinta memang seharusnya gratis, seperti dalam judul lagu artis inggris, Lighthouse Family. Atau bagai sepotong bait lagu Jennifer Lopez, “My Love Don’t Cost A Thing”.

Apapun redaksinya, cinta memang seharusnya tulus ikhlas, tanpa terkotori oleh niat sampingan, yang mampu merubah total derajat cinta yang tinggi nan powerful menjadi sama rata dengan derajat sampah nan menjijikan. Mengapa ? Karena ia cinta, Ah, cinta . . . .

Wassalam

Al-Fakir Ad-Dhaif

-Alkindi- @ My Comfy Room, Uno AM

~ oleh varendy di/pada Juli 2, 2007.

2 Tanggapan to “Love Is Free”

  1. Getar cinta. Reaksi kimiawi yang mempesona. Keunikan dan inilah reaksinya cinta. Ketika ikrar cinta sudah diproklamirkan bahwa kasta cinta tertinggi hanya untuk Allah dan meletakkan kecintaan-kecintaan pada seribu satu kekasih pada tingkatan yang tidak menguasai hati, tidak menundukkan jiwa dan tidak menjajah wilayah ketaatan kita. Maka getar cinta itu akan terasa semakin dahsyat disaat kita tiba-tiba disebut kekasih tertinggi kita. Asma Allah Azza Wajalla. Kekuaran getaran kekuatannya jauh daripada getaran-getaran cinta yang lain.

    • meskipun saya nggak terlalu mudeng akan komentar ini, tapi saya bisa nilai kalo mas fatony adalah orang yang punya cita rasa tinggi dalam bertutur. :) terimakasih atas kunjungannya mas. mohon maaf blognya rada berantakan . . .

Tinggalkan Balasan