Who Am I? (ende)
assalamu’alaikum
selamat siang dunia !
alhamdulillah, akhirnya tiba juga kita di tulisan tahap keempat alias terakhir. rasanya bagaimana ya, agak aneh aja harus memulai sebuah akhiran. tapi segala sesuatu memang pasti harus ada awal dan akhirnya. kalo kata jikustik sih, karena tak ada yang abadi. oke kita mulai saja perjalanan kita hari ini.
kita telah lumayan jauh berjalan, jika pembaca mengarungi tulisan ini dari awal, idealnya kita sudah bisa melihat kedalam diri kita. apakah kelemahan dan apa kekuatan diri kita. tulisan ini tidak akan membahas tentang semua hal itu. tetapi tulisan ini hanya bertujuan sebagai sebuah penutup.
ketika kita berbicara tentang mengenal diri sendiri pada tulisan bagian kedua. dengan jelas dapat kita tangkap bahwa kita dapat mengoptimalkan kemampuan diri kita sehingga sukse dapat dengan lebih mudah kita peroleh.
dalam tulisan ini saya ingin mengajak pembaca untuk melihat kebelakang. apa saja yang telah kita raih dan apa saja yang masih menjadi mimpi kita. apa saja yang telah menjadi masa lalu dan apa saja yang masih menjadi misteri masa depan kita.
pernahkan kita membayangkan betapa telah begitu banyak menit yang kita lewati di belakang kita dengan sia-sia? atau pernahkah kita terpekur sejenak untuk mengenang bahwa telah begitu banyak hati orang lain yang kita sakiti tanpa sadar? atau pernahkah kita menyesal bahwa kita tak bisa memaksimalkan suatu kesempatan ketika ia tiba-tiba datang untuk kemudian pergi dan kita tak sadar?
dengan mengenal diri kita sendiri kita akan mampu meraih yang kita sesali di masa lalu tadi. setidaknya kita tak akan mengulangi kesalahan yang telah kita perbuat di masa lalu. kita akan sangat aware dan mampu mengoptimalkan segala kesempatan.
kita juga akan mampu menjaga hati orang-orang yang berbicara dengan kita. karena kita mengerti apa kesukaan dan kelemahan mereka dan sifat pribadi kita macam apa yang harus keluar dalam menghadapinya.
selain itu jika kita melihat lebih jauh kebelakang, kemasa-masa para pemikir kelas dunia seperti plato, archimedes, einstein, wright brothers, da vinci, newton, mozart, beethoven, Muhammad SAW, bukhari, muslim, ibnu taimiyyah, Al-Jabar, Al-Khawarizmi, Al-Kindi dan para pemikir besar lainnya.
mereka merupakan sosok yang sangat kenal akan dirinya sendiri dan mereka mampu meletupkan potensi terbesar mereka untuk menghasilkan karya besar dan mengabadikan nama mereka dalam tinta sejarah.
mungkin kita akan banyak bertanya, mengapa orang-orang terdahulu menguasai banyak sekali bidang, seperti misalnya da vinci yang merupakan teknokrat dan artis besar. atau plato yang merupakan filsuf, sosiolog, dan juga artis tulen. atau seperti Al-Jabar yang menguasai filsafat, ilmu falak, matematika, kedokteran, dan sebagainya.
jika manusia modern baru mengenal teori dan konsep multiple intelligence, mereka telah terlebih dahulu mempraktekkan multiple intelligence itu. mereka telah menunjukkan bahwa seorang manusia adalah makhluk sejuta potensi.
jawabannya adalah karena mereka semua sangat mengenal diri mereka dan potensi terpendam dalam dirinya. mereka terus menerus melakukan riset terhadap kemampuan mereka, melongok lebih dalam ke relung jiwa mereka, mereguk setetes ruh dan menganalisanya, menjadikan ia sebuah potensi untuk kemudian meledakkannya dalam bingkai karya besar.
pertanyaan yang seharusnya mulai mengemuka adalah mengapa kita tidak bisa seperti mereka? padahal sang pencipta telah menjadikan diri kita semua unik dan berbeda, dengan kecakapan dan potensi diri yang tak terbatas.
buktinya adalah kita diciptakan dengan sidik jari yang selalu tak sama antar satu manusia dengan yang lain. bukti sahih bahwa setiap manusia diciptakan dengan unik dan tak ada yang serupa. sama halnya seperti zebra yang dicipta dengan corak strip bulu tubuh yang berbeda satu dengan lainnya.
saya telah mencoba riset kecil-kecilan untuk membuktikannya. dan hasilnya menunjukkan hal yang signifikan, meski mungkin belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
salah satu sampel yang saya ambil adalah terhadap teman saya sendiri. pada dasarnya ia adalah seorang manusia tipe lover, namun setelah berdialog dengan saya. ia menemukan sifat art yang cukup kental dalam dirinya. semula ia tertarik dalam bidang teknik, kemudian setelah dilakukan pendalaman kepribadian, ternyata ia seorang psikolog yang berbakat dan juga trainer yang hebat.
entah apakah hal ini bisa terjadi pada orang tertentu atau pada semua manusia. tapi dalam relung hati saya entah kenapa, ada sebuah kekuatan yang selalu meyakinkan sya bahwa hal ini bisa terjadi pada semua manusia meski tentu saja kadarnya pasti berbeda. ada yang potensinya luar biasa dan ada juga yang potensinya ternyata biasa saja.
entahlah, mungkin waktu yang harus menjawabnya. saya pribadi hanya bisa mereka-reka. meraba-raba di gua ang gelap. karena sinar dan cahaya hanya milik-Nya semata, kewajiban kita hanya terus bergerak dan berusaha. that’s it !
bagian keempat -tamat-
wassalam
al-fakir ad-dhaif
-alkindi-


Tinggalkan Balasan