Luruh
awan-awan berarak dengan gemulai
meniti langit dengan senyuman
cerah bersih bergulung-gulung
selembut kapas seputih salju
di sisi lain angkasa raya
kelabu mengintip di mega tipis
melayang-layang dengan gembira
menutup asa menimbul duka
tepat di ujung khatulistiwa
dirgantara murka dengan dahsyatnya
kelam hitam bagai noktah nan abadi
ramah kilat menyapa bumi
talu guntur menggema saru
tertegun aku dalam kacau alam
hanyut luruh dalam orkestra cinta ilahi
memaku jiwa dalam syahdu
memalu raga merogoh sukma
seutas cahaya terbetik di relung hati
aku tercipta atas kehendakmu
dan hanya kepadamu aku bersimpuh
wassalam
al-fakir ad-dhaif
-alkindi-


Assalamu’alaikum…
saya suka dengan tulisan mas varendy tentang “luruh” dan “gundah”. bagi saya itu menggambarkan jiwa seseorang pada saat itu. bahasanya indah. bisa mewakili jiwa..,
ajarin dong….
aduh..duh..puitis bgt euy..belajar dimane bang he.he
buat cut : boleh2, tapi ada biayanya lho perjamnya 50.000, he3x, bedanda dek. aku paling bingung kalo disuruh ngajarin orang bikin puisi, tapi ya intinya banyak menulis dan berlatih aja dek.
buat duns : masa sih segitu puitis, kalo menurut aku malah biasa aja tuh, maksudnya aku masih bisa lebih puitis dari itu, tapi ya ntar aja dikeluarinnya, only for my lady, ahem