Luruh

awan-awan berarak dengan gemulai

meniti langit dengan senyuman

cerah bersih bergulung-gulung

selembut kapas seputih salju

di sisi lain angkasa raya

kelabu mengintip di mega tipis

melayang-layang dengan gembira

menutup asa menimbul duka

tepat di ujung khatulistiwa

dirgantara murka dengan dahsyatnya

kelam hitam bagai noktah nan abadi

ramah kilat menyapa bumi

talu guntur menggema saru

tertegun aku dalam kacau alam

hanyut luruh dalam orkestra cinta ilahi

memaku jiwa dalam syahdu

memalu raga merogoh sukma

seutas cahaya terbetik di relung hati

aku tercipta atas kehendakmu

dan hanya kepadamu aku bersimpuh

wassalam

al-fakir ad-dhaif

-alkindi-

~ oleh varendy di/pada Desember 28, 2007.

4 Tanggapan to “Luruh”

  1. Assalamu’alaikum… :)

    saya suka dengan tulisan mas varendy tentang “luruh” dan “gundah”. bagi saya itu menggambarkan jiwa seseorang pada saat itu. bahasanya indah. bisa mewakili jiwa..,

    ajarin dong….

  2. aduh..duh..puitis bgt euy..belajar dimane bang he.he :)

  3. buat cut : boleh2, tapi ada biayanya lho perjamnya 50.000, he3x, bedanda dek. aku paling bingung kalo disuruh ngajarin orang bikin puisi, tapi ya intinya banyak menulis dan berlatih aja dek.

  4. buat duns : masa sih segitu puitis, kalo menurut aku malah biasa aja tuh, maksudnya aku masih bisa lebih puitis dari itu, tapi ya ntar aja dikeluarinnya, only for my lady, ahem

Tinggalkan Balasan