Untuk Ibu

malam hampir berakhir

sang mentari mulai menggeliat

ketika bernas fajar menari di ufuk timur

hari baru mulai menjelang

seiring dengan tumbuhnya harapan

senyumku mengembang

tanganku terentang

kan kusambut hari dengan cinta

dan kupeluk bahagia yang menunggu

petir datang tanpa di duga

merampas mimpi pagiku yang baru saja hendak lahir

langit masih membiru laut

tapi hatiku merona merah

dia yang kucintai telah pergi

menuju keabadian sejati

menuju tempat yang terlayak baginya

terkenang masa ku ditimang

tembang jawa menghiasi setiap ayunannya

ia yang selalu tersenyum

ia yang selalu sabar

ia yang selalu memupuk harapanku

ia yang tak pernah lelah mengasuhku

meski aku seringkali melanggar perintahnya

ah indahnya cintamu wahai ibu

kupapah tubuh ringan itu

dan temani ia sampai ke hilir

senyum yang memberkas di wajahnya

takkan pernah lekang di hatiku

selamat jalan wahai pejuang

kan kulepas engkau dengan senyum

dan kan kupelihara budi baikmu

ibu . . . .

ingin kuucapkan seuntai kata untukmu

aku cinta padamu ibu . . .

selamat jalan wahai pencinta

semoga pelukan hangat malaikatnya menyambutmu

sampai berjumpa lagi

di masa depan yang tak berapa lama

wassalam

-al fakir ad dhaif-

-alkindi-

>> dibuat dengan rasa duka yang mendalam, teruntuk saudaraku yang pagi hari ini telah berpulang sang ibu tercinta, semoga sekeluarga diberi ketabahan, dan semoga arwah dan amal baik almarhumah diterima dan dilipatgandakan disisi-Nya <<

~ oleh varendy di/pada Januari 21, 2008.

2 Tanggapan to “Untuk Ibu”

  1. allahumma amin,.puisi yg indah untuk seorang ibu ah..jd kangen sama ibuku nih hiks.hiks kpn plngnya ya?? :(

  2. udah2 jangan nangis donk duns cengeng ah, be strong, be brave, insyaAllah bentar lagi ketemu ibumu, emang dimana sih kampungmu?

Tinggalkan Balasan