Kisah Sepotong Sarung

assalamu’alaikum

selamat siang dunia !

siang hari, mentari tengah berada dalam puncak aktivitasnya, ia nampak ceria bercanda dengan mega yang hari itu tampil dengan gaun putih bersih, sepoi-sepoi siulan sang bayu berhembus, nampaknya ia tak mau ketinggalan untuk turut mewarnai suasana siang hari nan ramah.

nampak seorang pria terlihat tergesa-gesa, sepertinya ia sedang dikejar setan yang hendak mencerabut ruh dari raga tanpa gizinya. entah energi apa yang masih bisa mendorongnya untuk bergerak, kaki-kakinya bergerak bersicepat dengan debu jalanan. nampak dikejauhan sebuah bangunan bercat putih, dengan kubah yang agung pada atapnya. Ia hendak menghadap Rabb-nya, seusai mengambil wudhu iapun segera menyongsong takbir.

seusai sholat ia langsung bangun dari tempat duduknya. bergegas ia lalu keluar dari masjid itu. para jamaah yang lain pun termangu karenanya. heran karena si pria berlaku seperti itu. terlihat sepasang mata nan teduh terus memandanginya sampai keluar halaman masjid. sang pria terus mempercepat langkah kakinya, seolah alergi dengan lingkungan masjid dan ingin menjauh secepatnya.

keesokan harinya hal itu kembali berulang dengan kejadian yang tak jauh berbeda dari hari sebelumnya. sayang, langkah kaki sang pria keburu dihentikan oleh sang imam masjid.

“saudaraku, mari bicara sebentar dirumah” ajaknya ramah sambil menjajari langkah

“mengapa engkau tergesa-gesa wahai sahabat?” tanyanya bijak sambil mengangsurkan segelas teh hangat. ia seruput teh hangat itu setengah

“aku harus pergi” tolaknya sopan sambil bergegas lagi, meninggalkan sang imam dengan kebimbangannya

hari demi hari terus berlalu, seminggu sudah terlewat. sang pria tetap saja berlaku seperti itu dalam setiap harinya. meskipun sang imam telah berkali-kali menanyainya, si pria tetap saja berlaku sama. penasaran, akhirnya sang imam mengikuti pria itu sampai kerumahnya. betapa terkejutnya, ternyata rumah pria itu reyot dan tak layak huni. keterkejutannya semakin menjadi ketika ia melihat bahwa ternyata kedua orang pasangan itu hanya punya satu sarung untuk sholat. itulah alasannya mengapa si pria selalu pulang cepat sehabis sholat berjamaah di masjid. karena ia tak ingin sang istri terlambat untuk melakukan amalan sholatnya. dalam hati si imam berdo’a, ya Allah kaya-kan keluarga ini, buat mereka bisa beribadah dengan tenang.

keesokan harinya, rezeki datang menghampiri si pria. seorang kenalannya menghadiahi kambing betina yang ternyata sedang hamil tua. si pria senang bukan kepalang, kemudian datanglah sang imam menasehatinya.

“ini bisa jadi titik tolak kehidupanmu, bersyukurlah pada Allah atas semuanya”

kemudian kambing itu melahirkan sepasang anak kambing laki-laki dan perempuan. sejak saat itu si pria selalu menjejak shaf terdepan dalam setiap sholatnya, yang terpenting, ia juga sudah punya dua pasang sarung untuknya dan istri tercinta, sehingga ia tak pernah lagi tergesa meninggalkan masjid seusai sholat. ia benar-benar bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah padanya. ia meresapi setiap tetes rahmat dengan jiwanya.

kemudian kambing-kambingnya semakin bertambah banyak dari hari ke hari. iapun segera termashsyur dan kaya raya, semua itu bersumber dari hasil penjualan kambing, susu, dan dagingnya. tragedi itupun terjadi, semakin lama shaf sang pria menjadi semakin mundur dan semakin mundur. ia semakin lama semakin terlambat untuk melaksanakan sholat berjamaah. tak jarang bahkan ia datang beberapa rakaat setelah takbir pertama.

suatu hari ia absen dari masjid itu, bukan suatu hal yang jarang, karena ia sudah tak pernah lagi menyentuh dingin lantai masjid. saat itu harta kekayaannya sudah sangat luar biasa. konon dibutuhkan beberapa orang pria dewasa untuk mengangkut kunci gudang hartanya. tak kurang ia sendiri mempekerjakan puluhan orang pria dewasa hanya sebagai pengangkut kunci gudangnya. belum sebagai pengawal dan pegawainya. ketika itu si imam yang sudah sepuh berkunjung ke rumahnya yang megah bagai istana. sang imam terkagum-kagum melihatnya. si pria menyambut imam dengan gembira dan mempersilahkan untuk duduk.

“duhai indah nian rumahmu, megah bagai istana” puji sang imam

“alhamdulillah imam, saya telah berhasil” sahut si pria dengan senyum

“ada apa imam kemari” lanjutnya

“masjid sekarang sepi, tak banyak orang yang mau sholat bersama disana” keluh sang imam, si pria tampak mengangguk-angguk

“termasuk kamu, kamu sudah lama tak terlihat lagi di masjid, ada apa nak?” tanyanya penuh selidik

“maaf imam, saya sudah terlampau sibuk untuk mengurusi usaha saya, saya tak punya cukup waktu untuk sekadar singgah di masjid imam” jawabnya angkuh

“anakku cobalah sejenak untuk mampir”

“maaf imam saya takkan bisa, urusan tak penting seperti sholat di masjid akan menyita waktu saya yang berharga”

“anakku, tidakkah kau ingat saat kau dahulu”

“kau dahulu sangat rajin ke masjid bahkan tak pernah tertinggal sholat berjamaah, ketika itu kau hanya punya sehelai sarung untuk dipakai berdua dengan istrimu, lupakah kau?” keras sang imam bicara

“maaf imam, saya rasa saya tak pernah mengalami hal itu, semua ini berasal dari usaha dan keringat saya sendiri imam, bukan dari orang lain atau dari siapapun, kalau memang boleh, saya ingin istirahat imam” angkuh ia menjawab

“baiklah kalau begitu, ingatlah anakku, bahwa semua itu berasal dari Allah, dan akan kembali padanya” bijak sang imam

“terserah imamlah” ketusnya

“baiklah, aku pamit dulu, bwlum ada kata terlambat untuk kembali anakku, sebelum murka Allah turun, assalamu’alaikum”

“ya ya terserah imamlah, wa’alaikumsalam”

hari terus menua, malampun kembali menjelang. Allah menunjukkan kuasanya. dimalam hari yang kelam, seluruh istana si pria yang sombong ditelan bumi, beserta seluruh harta benda dan keluarganya. ia menggelegap menggapai mencari selamat. berteriak-teriak hendak bertobat. sayang murka Allah telah tiba, telah cukup nampak kerusakan yang diperbuat oleh si pria sombong, dan telah cukup waktu yang diberikan.

menjelang subuh seluruhnya telah tenggelam, tertinggal sepotong sarung tua yang telah lapuk dimakan zaman. ia menyambut saksi seruan adzan yang kini berkumandang.

hayya alash sholaah

hayya alal falaah

wassalam

-al-fakir ad-dhaif-

-alkindi-

~ oleh varendy di/pada Februari 19, 2008.

6 Tanggapan to “Kisah Sepotong Sarung”

  1. Jadi Inget kisah di jaman Nabi ya, semoga harta dunia tidak menyilaukan kita semua. amien

  2. emang inspired dari situ kok, yah diubah2 dikit lah biar agak2 beda. aamin.

  3. hihihihi…. ^_^ (ketauan)

  4. o o kamu ketauan, nyolong kisah dari sahabat, tapi gapapa kan nyolong dari kisah sahabat dan di modif

  5. ya gapapa lagi…., kan dapat ngingatin kita.

    ^_^

  6. he eh, semoga kita selalu ingat kepada-Nya, aamin

Tinggalkan Balasan