Ayat-Ayat Cinta The Movie : Goes To

assalamu’alaikum

selamat siang dunia !

sore itu hujan mengguyur kota jakarta yang masih saja terlihat sibuk. basah, lembab, dan banjir tak menghalangi para pencari materi untuk terus beraktifitas. selama masih ada jaket dan jas hujan serta payung yang melindungi, entah harus bagaimana caranya, rasanya tak mungkin kegiatan bisnis bisa terhenti di kota terbesar di negeri ini.

hari senin sore itu kebetulan sekali saya bisa pulang cepat, sebetulnya sih tidak diniatkan untuk pulang cepat, tapi memang ternyata saya ada kesempatan untuk pulang lebih cepat. karena hujan yang terus mengguyur dan payung yang rusak, mau tak mau saya harus menaiki bus yang ada, sayang sekali bus tujuan bekasi timur yang biasa saya naiki tak kunjung tiba. akhirnya saya putuskan untuk menaiki bus dengan tujuan bekasi barat.

jam sudah menunjukkan pukul 17.00 ketika roda bus menginjak pintu tol bekasi barat, ide liar segera memasuki relung otak saya. kalau tidak salah di bioskop mall sedang diputar film Ayat-Ayat Cinta yang baru itu. logika status quo saya segera berperang dengan ide liar itu, dua kepentingan yang berbeda background berseteru dengan hebatnya. akhirnya sang ide liar berhasil mengalahkan si status quo. saya melangkahkan kaki menuju mall metropolitan bekasi barat. pikir saya, kalau saya dapat tiket nonton yang pukul 18.00 saya akan tiba dirumah masih sekitar jam 20.00, itu masih okelah untuk ukuran orang rumah. lagipula hari itu masih senin, artinya saya bisa menghemat sampai sepuluh ribu karena hari ini hitungannya adalah nomat (nonton hemat).

kondisi mall saat itu sebenarnya cukup sepi. sayapun segera bergegas menuju bioskop dan mengantri sesudahnya. mungkin agak aneh bila dibayangkan seorang pemuda single sendirian nonton biokop dengan baju kerja kemeja, dimana banyak orang sedang dengan pasangannya masing-masing atau satu keluarga dengan anak-anaknya, saya merasa terasing sendirian, what a strange moment.

antrianpun mulai menyusut hingga tibalah giliran satu orang di depan saya, dia ternyata juga ingin menonton film itu. beruntung tikel terakhir pada jam enam berhasil dia dapatkan, dan saya mau tak mau harus membeli tiket untuk jam delapan. bisa dibayangkan betapa gondoknya saya. satu orang terakhir di depan saya mendapat tiket itu sedangkan saya harus menunggu dua jam lagi ??? namun akhirnya saya beli juga tiket itu.

sekarang saya pusing, harus kemana saya selama dua setengah jam lagi? sempat berpikir untuk pulang dulu ke rumah, tapi sih biasanya kalo udah pulang, susah untuk menggerakkan kaki lagi keluar rumah. okelah, selama masih ada gramedia pasti masih ada jalan, pikir saya singkat.

satu jam berlalu sejak saya menginjakkan kaki di gramedia, tak ada yang saya beli pastinya, karena memang jatah untuk buku sudah saya hamburkan di indonesian book fair beberapa waktu lalu. adzan magrib pun berkumandang. lepas maghrib masih ada sisa waktu satu jam lagi menjelang jam delapan.

tanpa diundang, ide liar kembali datang. ”masuki sebuah restoran cepat saji” bisiknya. sedang si status quo berusaha untuk berpikir hemat. “mendingan kamu makan di luar mall aja” serunya. pertempuran itu membuat saya berjalan tanpa tujuan. berkali-klai saya melintas di depan dua buah restoran cepat saji. hanya melintas saja, tidak mampir membeli. “mau root beer atau burger yang yummy?” ide itu melintas dengan liarnya. lagi-lagi sang status quo kembali harus mengalah. saya akhirnya memilih restoran yang terkenal dengan root beernya.

lepas lapar yang menghinggapi, saya kembali bingung. masih setengah jam lagi menjelang film dimulai. hendak kemana lagi saya? dengan putus asa akhirnya tuts-tuts handphone pun menjadi sasaran saya.  kesal karena tak bisa menang melawan artifical intelligence dalam handphone segera saya larikan kaki menuju bioskop. masih ada dua puluh menit lagi menjelang film dimulai. harus ngapain lagi saya?

sempat tergoda untuk beli popcorn hasil dari si ide liar. akhirnya kali ini si status quo menang. sayapun hanya ngejogrok di lantai studio tanpa membeli apa-apa. sungguh sebuah pemandangan yang memilukan. seorang pemuda dengan tas yang berat dan kemeja kerja. ngejogrok di lantai studio, sendirian dan tanpa seorangpun teman. sementara di sekelilingnya bertebaran para cowok dan cewek dengan pasangannya masing-masing, ada juga para cewek-cewek dengan koloninya, serta para keluarga dengan anak-anaknya, bahkan ada juga yang membawa nenek kakeknya ikut serta, yang paling minimal adalah dua orang laki-laki atau dua orang perempuan. sempat berpikir juga, kalau saya bawa mangkok, mungkin mangkok tersebut akan cepat terisi penuh uang di studio ini.

jam sudah menunjukkan pukul delapan ketika pembatas studio mulai dibuka. dan para penonoton terdahulu mulai berhamburan keluar dari studio itu. mereka berdiskusi dengan versinya masing-masing tentang film yang baru saja mereka tonton. meninggalkan saya dengan rasa penasaran yang makin menggunung.

sepuluh menit kemudian pintu teater mulai dibuka, dan saya mendapat kehormatan sebagai orang pertama yang memasuki studio. dalam hati terbersit satu pertanyaan besar, apakah dua jam setengah adalah waktu tunggu yang worthed untuk sebuah film berjudul ayat-ayat cinta? here we goes . . .

bersambung ke bagian kedua, ayat-ayat cinta the movie :  amateur review

wassalam 

-al-fakir ad-dhaif-

-alkindi-

~ oleh varendy di/pada Maret 11, 2008.

16 Tanggapan to “Ayat-Ayat Cinta The Movie : Goes To”

  1. Kapan bagian keduanya??? pengen tahu pengalamnnya nih

  2. ;) ) kemarin ya mas?
    berarti pas lagi sms itu ya? Ooo..

    ^_^ unik kejadiannya. pengalaman baru yah.. ^_^

    ok ditunggu nih bagian keduanya ^_^

  3. bentar yah mas jatmik nunggu banyak yang komentar dulu baru diterbitin bagian keduanya, he3x

  4. bukan atuh neng. aku nontonnya udah hari senin minggu lalu, kebetulan baru sempet nulisnya minggu ini

  5. oh.. (hihi jadi malu :D )

  6. pamit dulu..mau ke kampus.
    ok ditunggu terbit yang selanjutannya :D

  7. Assalamu’alaikum ^_^

  8. oke deh ati2 dijalan, wa’alaikumsalam

  9. Bikin penasaran ya
    Pake ada acara Bersambung lagi
    Kalo ada yang gratis kenapa harus ke bioskop
    Lumayan kan…

  10. gratis? dapet darimana tuh gratisan?

  11. kecian varendy, waktu blm ada di bioskop tmn2 kantorku dah pada punya atuh,malahan pd nonton dikantor bareng he.he.

    makanya biar ga kaya lonely boy besok2 klo nonton ajak2 donk :D

  12. salam kenal….
    menarik bgt ceritanya, tapi q ngasihsaran aja nich..
    cerita kelanjutan jangann terlalu detai y, soalnya sy belom nonton juga.. comment pribadi aja yang ditulis. trus biar orang lain yang beloom nonton tertarik nonton di bioskop.. HIDUP FILM INDONESIA!!! ^_^

  13. aku menghargai yang buat film sih, jadinya aku ga mau nonton yang ga original, kasian kan udah bikin cape2 eh malah nonton yang bajakan yang kualitasnya ga jelas, kalo kata mas hanung sih pasti beda jauh antara yang bajakan sama yang aseli, setelah dibenchmark ternyata emang iya, pokoknya jauh beda deh sensasinya yang asli sama yang bajakan.

  14. belum nonton juga? he3 keduluan donk ya sama aku, gapapa, oya tulisan tentang ayat-ayat cinta bagian kedua udah di posting lho . . .

  15. kayanya seruan pengalaman untuk mendapatkan tiketnya ketimbang filmnya sendiri he..he..he.

  16. he3x, bener juga ya mas, tapi gapapa, kan tujuan akhirnya tetep terpenuhi atuh, yaitu nonton film, he3x. ngomong2, mas landy udah nonton belum?

Tinggalkan Balasan