Ayat-Ayat Cinta The Movie : Amateur Review
assalamu’alaikum
selamat pagi dunia !
sebelumnya saya ingin menjelaskan terlebih dahulu kenapa sampai tulisan ini berjudul amateur review, karena saya bukan merupakan seorang professional di bidang film, jadi tulisan ini hanya merupakan sebuah revies seorang penikmat film, mohon maaf bila ada kata-kata atau ilmu yang kurang pas. dan lagi aspek tinjauan tulisan ini hanya dari segi teknis filmnya saja, bukan dari segi budaya atau lainnya, saya akan biarkan orang lain yang mengisi ruang kosong itu, here we go . . .
lampu bioskop yang masih terang memudahkan saya untuk mencari tempa duduk saya, E-11. sebuah tempat yang menurut saya cukup ideal untuk menonton film, tapi ternyata setelah saya duduk tempat itu terlalu ke kanan dan kurang center. gapapa lah, harus disyukuri juga karena saya telah menghabiskan waktu dua jam setengah untuk mendapatkan tempat ini.
seperti biasa sebelum mulai sebuah film biasanya sering ditayangkan potongan-potongan adegan film yang akan datang. apa yang terjadi selanjutnya membuat saya pesimis. tahun 2008 trend untuk film bergenre horor masih belum berhenti rupanya, tercata ada tiga film besar yang akan menghiasi layar kaca di tahun ini. sekuel kuntilanak 3 adalah salah satunya. ada-ada aja memang, hebat si kuntilanak ini, sampe dibuat tiga sekuel lho ! alangkah terkenal dan banyak fansnya berarti si kuntilanak ini. dan yang tak habis pikir judul film lainnya membuat saya tertawa sinis. skandal asmara babi ngepet. oh my god, come on ! apa sudah tak ada judul lain yang bisa dibuat? sampe-sampe si babi ngepetpun dibikinkan film tentang skandal asmaranya. oh dear . . .
lampu dimatikan dan filmpun segera dimulai . . .
cukup disayangkan memang, ditengah-tengah pemutaran film ini banyak sekali penonton yang berisik mengomentari bahkan ngobrol selama film diputar. padahal sebelum film ini dimulai sudah ada peringatan untuk tidak berisik ketika menonton. yang paling membuat saya kesal adalah ketika handphone salah satu penonton berdering pas sewaktu layar sedang menanyangkan noura yang sedang dikasari oleh bahadur. akting zaskia yang cukup oke pun terasa hambar. keasyikan saya menonton film pun terasa merosot drastis.
secara teknis, film ini sendiri memiliki alur cukup baik, meski terkesan melompat-lompat, memang bagi para penonton yang belum pernah baca novelnya hal ini takkan terasa mengganggu. tapi secara logika alur film ini cukup benar. karena takkan mungkin sebuah novel yang tebalnya ratusan halaman diadaptasi menjadi sebuah film dengan durasi kurang lebih dua jam. dalam hal ini saya cukup sependapat.
dalam hal setting, bagi saya yang awam, film ini cukup mampu untuk menampilkan pesona mesir yang indah, gurun pasirnya, budayanya, orang-orangnya, dan lain sebagainya, meski dalam wawancara ternyata sang sutradara sendiri mengaku bahwa film ini ternyata tak satupun ada setting yang dilakukan di mesir, syuting film sendiri dilakukan di jakarta, semarang, dan india. hebat bukan? konon katanya film ini sendiri tak punya budget yang cukp untuk syuting di mesir. bayangkan sajam sang produser harus merogoh kocek sedalam lima belas miliar rupiah agar bisa syuting di mesir. jumlah yang cukup fantastis bukan? karenanya film ini kemudian dibatalkan untuk syuting di mesir.
dalam hal casting alias pemilihan karakter, film ini saya nilai cukup berhasil, meski saya tetap kurang puas dengan fedi nuril dan rianti cartwright sebagai peran utama. akting mereka berdua terasa kurang menggigit sebagai sepasang suami istri. tapi kritikan utama saya tujukan kepada fedi nuril. ia saya nilai hanya mempu menjadi setengah dari fahri yang sebenarnya. tapi lagi-lagi saya cukup maklum dengan hal ini, sulit rasanya mencari seorang sosok pribadi seperti fahri dan seorang aisha di kehidupan sehari-hari kita. apalagi ia juga harus jago berakting, maka semakin sulitlah pekerjaan sang sutradara.
yang perlu diacungi jempol adalah kemampuan sang kameramen untuk menjadikan film ini semakin indah, -konon katanya sang kameramen yang merupakan three musketeer (sahabat erat) dengan salman aristo sebagai penulis skenario dan hanung bramantyo sebagai sutradara ini- ia mampu menampilkan mesir yang indah dan juga menghidupkan film ini dengan pengambilan gambar yang diampik, namun yang menjadi catatan merah adalah adegan ketika fahri menyusul aisha yang hendak pergi berpisah. kalau penonton memperhatikan, di bagian atas film ini terlihat gambar hitam. itu adalah gambar mikropon menggantung yang terambil tanpa sengaja. sedikit memang tapi menurut saya cukup fatal.
dari segi sound film ini cukup baik, suara-suara para pemain terdengar jelas, begitupun dengan suara-suara lainnya. namun kalau saya yang buat film, lagu rossa yang menjadi sountrack film ini akan saya tempatkan ditengah-tengah juga selain di bagian belakang, mungkin pada saat adegan dimana fahri sedang bertatapan mata dengan aisha untuk pertama kalinya.
selain itu keberanian untuk menampilkan ayat-ayat qur’an dalam sebuah film harus diberi applaus khusus. tak banyak sutradara yang mau menampilkannya dalam film, juga pemakaian bahasa arab dalam film ini juga saya nilai cukup berani, meski para pemainnya saya rasa harus kursus bahasa arab lebih lama agar dapat melafalkannya dengan baik. termasuk saya juga sih, he3x
namun secara keseluruhan saya cukup menikmati film ini, tentu saja para penonton juga harus bisa membedakan bahwa film dan novel adalah karya seni yang berbeda dan tak mungkin bisa sama. bahkan ayat-ayat cinta dengan ketika cinta bertasbih juga tak bisa dibandingkan. mereka adalah buku yang berbeda, meski pengarangnya sama. dari saya, film ini masih kalah dengan trilogi lord of the rings sebagai film yang sama-sama diangkat dari novel, tapi film ini bisa menang dari film sekelas harry potter yang juga diangkat dari sebuah novel. kalau dengan kuntilanak 3 atau skandal asmara babi ngepet gimana? jelas ga bisa dibandingkan lah yauw. jauh deh pokoknya . . .
sebagai catatan kritis, patut disesalkan MD pictures telah mengubah alur dan nafas islami yang kental di dalam skenario dilm menjadi cenderung bergenre pop. namun semangat pendobrakan yang kental dalam film ini patut diacungi jempol. tinggal bersisa pe-er bagi umat islam, adakah yang mau mendanai film berlabel islami namun masih dalam nafas islam yang kental? who knows . . .
well, secara tujuan, saya nilai intisari film ini cukup sampai ke penonton, seperti wawancara terdahulu dengan kang hanung sebagai sutradara. tujuan awal dia membuat film ini adalah dia hanya ingin membuat sebuah film yang berbafaskan religi, kenapa? karena ia telah sangat muak akan genre horor dan romantisme picisan yang kini beredar. mari beri tepuk tangan untuk kang hanung yang bersemangat perubahan. waktu empat setengah jam total yang saya habiskan untuk menunggu dan menonton film ini saya rasa cukup worthed. total jendral film, ini saya akan beri nilai 7.5. tapi sekali lagi saya akan selalu salut dengan semangat para orang-orang dibaliknya, maju terus film indonesia !!!
catatan tambahan :
Senin, 10 Maret 2008
mall metropolitan bekasi kini menambah menjadi tiga buah studio yang menayangkan film ayat-ayat cinta hanya dalam waktu satu minggu berselang
beberapa kawan saya bercerita bahwa mereka berusaha untuk mengantri sampai dua kali (artinya dua jam dikali dua) bahkan tiket untuk nonton pun tidak juga bisa di dapat
apakah cap bahwa film yang religius = tidak laku masih berlaku? ataukah prinsip kalau mau laku harus bikin film horor dan romantis picisan masih harus diikuti?
wassalam
-al-fakir ad-dhaif-
-alkindi, seorang penikmat film indonesia berkualitas-


Alhamdulillah penantiannya tak lama..
wah…seumur hidup baru sekali nonton bioskop. pengen banget bisa nonton bioskop lagi.. apalagi AAC.. T_T
memang mengganggu banget apabila sedang serunya (apalagi film yang ingin banget ditonton) ada yang mengganggu. tapi apaboleh buatkan..
Saya setuujuu banget dengan isi “Ayat-Ayat Cinta The Movie : Amateur Review” ini. kenapa? ya kerena memang bener film ini terkesan melompat2. hal ini hanya dirasakan bagi orang2 yang sudah membaca novelnya. tapi bagi mereka yang tidak mmbacanya, yah dianggap sempurna. kemudian untuk tokoh utama, saya kutip:
“akting mereka berdua terasa kurang menggigit sebagai sepasang suami istri”.
Alhamdulillah penantiannya tak lama..
wah…seumur hidup baru sekali nonton bioskop. pengen banget bisa nonton lagi. kapan yaa?? T_T
memang kesal sih jika terganggu sewaktu menonton (apalagi seperti mas, yang udah kehujanan, trus tiket habis didepan mata daaann.. rela mengantri lagi
). tapi apaboleh buatkan.., ikhlas aja deh.. ^_^
Saya setuujuu banget dengan isi “Ayat-Ayat Cinta The Movie : Amateur Review” ala mas ini. kenapa? ya kerena memang bener film ini terkesan melompat2. hal ini hanya dirasakan bagi orang2 yang sudah membaca novelnya (seperti saya misalnya…
). tapi bagi mereka yang tidak mmbacanya, yah dianggap sempurna banget. kemudian untuk tokoh utama, saya kutip:
“akting mereka berdua terasa kurang menggigit sebagai sepasang suami istri”.
bener banget!!. maunya sih menggigit kan?? (hehehe…. mungkin karena mereka bukan suami istri…
tapi bagaimanapun, film itu banyak ancungan jempolnya…
selamat deh buat semuanya yang berperanserta atas suksesnya film Ayat-Ayat Cinta. Semoga saja film2 indonesia berikutnya tambah baik dan sekaligus dapat menyampaikan dakwah.. ^_^
# BTW, mas nangis nggak?. biasanya orang pada berlinang air mata sewaktu nontonnya (ihihihi….)
hehehe… yang paling atas tu kok bisa terposting ya? belum habis..
yang lengkapnya yang kedua ^_^
iya bener film the lord of the rings emang blm ada tandingannya.. untuk film AAC preety goodlah untuk ukuran film religi,..semoga aja mas hanung lebih byk bikin film yg bernuansa religi ato bole jg tuh kolaborasi sama bang Dedy Mizwar ;D
for icut : ga sampe nangis sih, tapi ya sedih aja, kesian deh belum nonton, pak hidayat dan pak din syamsuddin aja udah nonton, he3x
for duns : aamin semoga makin banyak yang bikin film kaya gini, he3x
yee…udah nonton lagi. kalau nggak mana bisa komentar tu tulisan. hehehe…
:p
maksudnya belum nonton dibioskop.tapi disrumah udah
nonton yang bajakan toh? berarti itungannya belum nonton tuh, he3x
Cuma sedikit catatan aja saya aga kurang srek dengan cadar yg digunakan, kesannya nanggung kenapa tidak pake jilbab saja kalau cuma seperti itu cara pemakaiannya, maaf ya karena wanita di keluarga saya pun mengenakan cadar, sedikit banyak saya aga paham.
wah ga nyangka, varendy bisa juga belok ke bioskop hehehe….
s e t u j u banget dengan yang diatas tentang cadar. ^_^
untuk mas, rendy : iya deh ngalah..
to landy : kalo saya menilai bahwa ini adalah film pertama dari industri film indonesia yang sedang mati suri bertahun-tahun. pastilah ga bisa sempurna, tapi tetap harus didukung semangatnya toh?
to sapa yah : ya bisa lah, meski cuma nonton film tertentu aja, btw ini siapa yah?