Melongok Tumasik (Day 1)
assalamu’alaikum
selamat siang dunia !
temasek atau yang biasa kita kenal sekarang dengan nama singapura merupakan sekumpulan pulau kecil saja, namun ia bisa menjadi ayng terdepan di asia tenggara, secara teknologi dan budaya, ia relatif lebih unggul dibandingkan dengan tetangganya di ASEAN. kunjungan saya ke negeri mungil itu membuktikannya, sudah siap untuk bertualang, yuk mari . . .
Day I
Jum’at itu terlihat cerah, ramalan cuaca tadi pagi yang mengatakan bahwa ibukota takkan hujan hari ini nampaknya benar. BMG bekerja dengan baik kali ini, sayangnya baru dimulai beberapa tahun belakangan, terutama setelah peringatan yang disampaikan oleh-Nya beberapa tahun silam. Ketika daratan dipaksa bertukar peran dengan lautan. Ketika manusia yang senantisa sombong dikejutkan dengan kekuatan alam yang maha dahsyat yang tentu saja semua power bersumber dari-Nya. Pertanyaan yang muncul, apakah manusia mau berubah setelah ditimpakan-Nya cobaan tadi? Atau malah manusia merasa bahwa kejadian tadi hanyalah karena alam yang murka semata?
Hal tersebut saya syukuri, karena memang saya dan keluarga berencana untuk mengunjungi sebuah negara mini yang dulu dibahasakan dengan nama tumasik, sebuah daratan yang terdiri dari rangkaian pulau-pulau kecil, Negara ini adalah gambaran hidup kesejahteraan bangsa jika para birokratnya mampu membaca dan memaksimalkan seluruh potensi negara. Meskipun memang, tak bisa dipungkiri, masih terlihat jelas hal itu terjadi karena ada campur tangan penguasa zion didalamnya
Bagaimana tidak, singapura yang hanya terdiri dari sebuah pulau kecil dengan beberapa pulau kecil lain yang mengelilinginya berhasil menjelma menjadi sebuah Negara yang mapan secara ekonomi, dan juga secara politik, padahal kalau dihitung secara matematis, luas wilayah singapura tak lebih besar dari Ibukota Jakarta. Dari segi sumber daya alam juga Ia tak lebih melimpah bahkan jauh tertinggal dari Negara kita tercinta ini. Begitupun jika dilihat dari sisi Sumber Daya Manusia, penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta jiwa, sudah pasti jauh lebih banyak dibandingkan dengan penduduk Singapura yang berkisar satu juta jiwa saja. Pertanyaan besar yang muncul di kepala adalah : mengapa kita justru jauh tertinggal dari mereka?
Pertanyaan itu saya biarkan bergantung di kepala saja, biarlah itu menjadi pikiran para birokrat negara ini, kerana saya sangat mengerti bagaimana kelakuan mereka. Yang pasti sekrang saya hendak menikmati perjalanan kami sekeluarga ke negera yang mempunyai simol sebuah binatang dongeng bernama Merlion, konon katanya Merlion hanya pernah muncul di sekitar pulau singapura, itulah mengapa ia kemudian menjadi lambang resmi Negara. Merlion sendiri merupakan sebuah binatang hybrid, alias kombinasi sempurna dari ikan dan singa. Itulah mengapa wujudnya pada bagian kepala sampai pinggang berupa singa jantan, dan bagian pinggang kebawah berupa ikan.
Untungnya perjalanan kami tergolong lancar meski pesawat kami sempat dua kali delay, akhirnya setelah satu jam lima belas menit perjalanan, kami sampai juga di bandara hang namin, batam dengan selamat. Selanjutnya kami telah ditunggu oleh teman ibu untuk segera melanjutkan perjalanan ke singapura, tentu saja tidak melalui jalan udara, tapi melalui jalan laut, kami memutuskan untuk mengendarai arus laut dengan kapal cepat di pelabuhan batam center, nama brand pengelolanya adalah batamfast dan nama kapalnya Sea Raider II.
Lagi-lagi, aroma yahudi jelas tercium oleh indra penglihatan saya, tepat di pintu masuk batam center terdapat logo bintang bersudut enam, sama seperti logo indosat yang sebagian sahamnya sudah dimiliki oleh SingTel, sebuah perusahaan kaki tangan yahudi. Kamipun segera membayar fiskal, per orang Rp 500.000, adik saya termasuk beruntung karena usianya belum genap 12 tahun, artinya ia tak wajib bayar fiskal itu. Kejadian yang unik adalah tidak berlaukunya uang rupiah ketika kami membeli tiket untuk naik kapal feri cepat, dengan serta merta uang yang ayah berikan ditolak oleh tellernya, beruntung teman ibu menalangi terlebih dahulu, ia masih punya uang seratus dollar, yah akhirnya kami pinjam uang tersebut terlebih dahulu untuk membayar lima buah tiket feri kami. Baru kemudian kami ganti. Kurang lebih satu jam perjalanan kami telah tiba di Sentosa Harbour, Singapura.
Tujuan berikutnya menunggu, kami harus segera mencari hotel untuk tempat kami beristirahat. Setelah sempat bertanya kesini kemari, kami sekeluarga memutuskan untuk naik MRT (Mass Rapid Transportation) menuju Chinatown. Perlu digaris bawahi disini MRT di singapura adalah kereta bawah tanah cepat, bukan busway seperti di Jakarta. Setelah sempat pangling karena tiket MRT yang harus dibeli secara elektronik di loket tiket otomatis,-apalagi saya yang hendak lewat pintu secara menerobos dan harus terantuk oleh daun pintu otomatis- kamipun segera masuk ke MRT. Untungnya pihak pengelola MRT dengan sigap dan ikhlas, rela bersusah payah untuk kami, dimaklumi ya bu, wong ndeso masuk kota nih.
Alhamdulillah, meski seringkali bingung kami sampai juga ke Chinatown, tujuan berikutnya adalah mencari hotel untuk tidur. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, kebanyakan hotel yang saya dan ayah datangi (ibu dan kedua adik terpaksa menunggu di tepi jalan New Bridge seperti gelandangan) sudah di labeli “fully booked” ketika kami tanyakan. Pun kalau ada kamar yang vacant kami harus menunggu sampai pukul 11 atau 11.30, sedangkan kami semua sudah sangat lelah. Memang kami pergi disaat sedang peak season (musim liburan), ketika banyak dari orang indonesia bepergian karena putra dan putrinya telah libur. Sekali lagi Allah menunjukkan kuasa-Nya, ada satu hotel yang kami bisa booking, itupun dengan catatan kami harus menunggu setengah jam lagi plus dengan catatan sampai jam itu si pemesan tidak jadi datang.
Namun begitulah ketika Allah telah campur tangan, kami berhasil menyewa satu kamar hotel meskipuin harus tidur bagaikan sarden, untungnya keesokan harinya mereka menjanjikan satu kamar lagi, sehingga kami bisa split dan tidur dengan lebih enak, tapi malam ini yang terpenting adalah istirahat. Tarifnya memang sangat tinggi, maklum sedang peak season sekaligus weekend, Sing $ 120 per malam, dan malam berikutnya Sing $ 80 per malam. Sayapun bergegas tidur ketika jam Singapura (lebih cepat satu jam dari jakarta) sudah menunjukkan angka setengah satu, hari ini sebuah pengalaman kembali tergoreskan dalam buku catatan hidup saya, dan lampu kamar pun padam.
bersambung ke day 2 . . .
wassalam
-al-fakir ad-dhaif-
-alkindi-
taken from my blog : varendy.wordpress.com


Sore..
wah, rajin nih nulisnya. good. ok dinanti bag 2
rendy kok jarang OL lagi? Padahal banyak banget yang mi di diskusiin. BTW, ngelancong ke tumasek bro…uenak dunks
buat wahyu : maaf ya bang kuda aye jarang OL, super busy euy . . .
buat icut : iya nanti aja ah biar penasaran, he3x