100 Tahun Kebangkitan Indonesia : Centraal Sarekat Islam

assalamu’alaikum

selamat malam dunia !

Centraal Sarekat Islam (CSI)

Karena perkembangan SI lokal yang sangat pesat, maka HOS Tjokroaminoto memandang perlu untuk membuat SI sentral untuk kepentingan koordinasi. Olehkarena itu pada tahun 1915 dibentuklah Centraal Sarekat Islam (CSI) dengan Ia sendiri sebagai chairman, Haji Samanhudi sebagai pelindung, dan Abdoel Moeis sebagai vice-chairman. Sampai akhir hayatnya HOS Tjokroaminoto masih tercatat sebagai member dari Board of Administration CSI.

Pada kongres pertama CSI (atau kongres ketiga SI) dalam pidatonya HOS Tjokroaminoto pertama kali mencetuskan kata nasional -yang pada waktu itu berarti pentingnya persatuan antar seluruh suku di Hindia Belanda-. pada tahun 1918, masuknya HOS Tjokroaminoto dan Abdoel Moeis dalam volksraad (semacam MPR/DPR) memberikan dukungan moral tersendiri sekaligus pengakuan terhadap CSI. Sebagai suksesor dari organisasinya dalam volksraad kedua tokoh itu juga termasuk vokal dalam mengkritisi kebijakan dari pemerintah Hindia Belanda yang merugikan rakyat pribumi.

Hukum keseimbangan alam terbukti, semakin besar dan kuat sebuah organisasi, maka semakin sulit pula mempertahankan ideologi idealnya. Ketika SI semakin maju dengan pesat, pada saat itu pula datang bibit-bibit perpecahan dari dalam tubuh SI.

Semaoen yang dikenal dekat dengan kaum sosialis -kaum sosialis dikenal dekat dengan pemerintah- menebarkan ideologi yang sama sekali bertentangan dengan ideologi dasar SI yaitu Islam. Ia kemudian menimbulkan oposisi dari dalam tubuh SI. Seperti yang kita ketahui bersama ia kemudian keluar dari SI dan mendirikan SI merah, yang tentu saja beraliran sosialis. Organisasi sempalan ini dikenal sebagai embrio Partai Komunis Indonesia. Ini adalah awal mulai melemahnya CSI.

Pada tahun 1921, HOS Tjokroaminoto ditangkap dengan tuduhan pembunuhan salah satu tokoh SI. Tuduhan ini dinilai sangat ganjil, karena menurut logika, mana mungkin seseorang yang menjadi pendiri SI membunuh kompatriotnya, sedangkan SI justru sedang membutuhkan tenaga-tenaga yang dapat membantunya dalam melebarkan sayap organisasi. Sebagai ilustrasi, mari kita anggap SI sedang dalam masa growth, yang pastinya membutuhkan banyak sumber daya untuk terus berkembang, mana mungkin pada saat itu ia justru mengurangi kekuatan sumber dayanya (teori product life cycle).

Hal itu terbukti benar ketika sembilan bulan kemudian ia dilepaskan kembali tanpa menjalani sidang. Tahun berikutnya, SI menjadi semakin lemah dan menuju ke tahap declining, hal ini disebabkan karena semakin kuatnya tekanan dan intevensi pemerintah terhadap SI. Meskipun demikian tercatat pada masa itu, anggota SI berjumlah tiga ratus ribu orang yang berasal dari berbagai suku yang tersebar di seluruh penjuru indonesia. Sebuah jumlah yang sangat besar pada waktu itu. Meski demikian, perjuangan HOS Tjokroaminoto terus berlanjut . . .

wassalam

-al fakir ad dhaif-

-alkindi-

~ oleh varendy di/pada Mei 29, 2008.

Tinggalkan Balasan