Tengok Nagari (Day 1)

assalamu’alaikum

selamat sore dunia !

alam Indonesia memang menyimpan pesona yang sangat luar biasa, terbukti dengan perjalanan saya kali ini. menyebrang pulau menuju andalas, saya menjelajahi tempat dimana leluhur saya dari bapak berasal, yap kita menuju minang ! tulisan ini saya persebahkan untuk semua urang awak maupun keturunannya yang tersebar diseluruh Indonesia, here we go . . .

Hari 1

Pagi itu langit bekasi kembali murung, nampaknya sudah beberapa hari ini moodnya terus buruk. Tak segan-segan ia menumpahkan kekesalannya dengan menurunkan hujan dan gemuruh yang turun ke bumi tanpa pamrih. Entah harus bersyukur atau harus bermurung. Meski mendung menggelayut di khatulistiwa, aku dan keluarga bersiap untuk pergi keluar dari rumah. Sebenarnya perjalanan kali ini memang tidak direncanakan secara matang, tapi memang hanya beberapa hari saja menjelang keberangkatan tiba-tiba ayah datang dengan tiket di tangan. “tanggal 29 nanti kita berangkat” katanya singkat. Terang saja kami sekeluarga terkaget-kaget karenanya. Bahkan persiapan packing harus kami lakukan sehari sebelum hari keberangkatan. Namun persiapan yang singkat tak membuat kami semua menjadi terburu-buru dan panik, melainkan kami malah terlecut dan bersemangat.

Tepat jam setengah lima pagi aku terbangun dan bersiap, setelah menunaikan kebutuhan seorang muslim pada umumnya, aku bersegera mandi dan melakukan final checking terhadap semua barang pribadiku aku dan semua menuju mobil untuk berangkat. Tentu saja kami bisa berangkat setelah terlebih dahulu menjemput paman saya yang akan merawat mobil ketika kami pergi nanti.

Kami tak mengalami kesulitan yang berarti ketika menuju bandara. Kemacetan yang biasa terjadi ketika hendak menuju bandara tidak terlihat sedikitpun. Mungkin karena hari ini hari sabtu dan mungkin juga karena kami berangkat lebih dahulu dari jadwal kemacetan yang biasa terjadi. Mobil kami meluncur lancar di jalan aspal tol bandara yang tak lagi mulus. Jalan tol bandara kali ini tak lagi digenangi banjir akibat air pasang, tanggul yang terlihat sebagian-jadi mungkin mulai melakukan tugasnya dengan baik, meski saya sendiri meragukannya. Dan kami tiba di bandara dengan selamat.

Perjalanan udara yang kami jalani juga relatif tak ada masalah, meski beberapa kali disapa turbulensi ringan yang terjadi akibat berbenturannya si burung besi dengan awan yang tinggi kandungan airnya atau dengan udara. Dan kamipun mendarat dengan mulus di bandara internasional minangkabau setelah berputar dua kali di wilayah udara ranah minang. Aku tertegun ketika sampai di bandara minangkabau. Sajian arsitektur khas minang mulai menjajah pikiranku. Atap berbentuk tanduk kerbau menyambut kami dengan ramah. Menuju ruang bagasi, musik minang mulai memasuki relung ruang tunggu bagasi. Hal itu mau tak mau membuat senyum simpulku merekah. Indonesiaku memang negeri dengan tingkat budaya yang mungkin tidak sekuno kebudayaan fir’aun atau heraclius. Namun ditilik dari keanekaragaman budaya negeri, suku-suku pribumi, dan lainnya negeri sudah pasti termasuk dalam negeri yang terkaya. Bagasi pun tiba dan waktu kami untuk meneruskan perjalanan.

Taksi yang kami naikipun menuju hotel hang tuah tempat dimana kami akan menginap. Hotel ini sendiri terletak di tengah kota, nama jalannya adalah pemuda. Sepanjang jalan rumah-rumah dengan atap yang seakan menantang langit menghiasi perjalanan kami. Sayang, guyuran hujan yang seakan setengah tak berniat menemani kami sepanjang perjalanan, bagaimana tidak, di kota ini hujan datang tak diundang dan langsung deras, dan tak sampai sepuluh menit hujan kembali reda dan tak menyisakan bekas. Begitu seterusnya, cuaca di padang saat ini sangat tak bisa ditebak. Terkadang satu hari bisa tak ada hujan setitikpun yang turun, tapi di hari berikutnya atau ditengah-tengah hari, hujan bisa tiba-tiba menyapa dengan ramahnya. Bisa jadi ini adalah salah satu akibat dari global warming yang sedang dibicarakan oleh hampir setengah penduduk bumi. Dimana bumi yang makin panas mengakibatkan perubahan iklim yang semakin unpredictable dan susah diatasi. Global warming menguap di kepalaku ketika taksi kami sampai di hotel.

Hotel hang tuah dalam peak season kali ini, mendekati tahun baru memiliki rate sekitar tiga ratus ribu rupiah per malam, yaitu untuk sewa satu kamar dengan dua buah tempat tidur dan satu buah kamar mandi, jika pasangan suami-istri saja mungkin kamar ini akan cukup, namun jika membawa anak untuk menambah extra bed dikenakan biaya sebesar tujuh puluh ribu rupiah.

Oya kami juga menyewa sebuah mobil selama kami berada di padang ini, ratenya untuk mobil tipe APV berkisar antara tiga sampai empat ratus ribu rupiah per hari. Sedangkan untuk mobil kijang tarifnya berkisar antara empat sampai lima ratus ribu rupiah per hari. Untuk tugas mengelilingi kota padang, APV mungkin cukup bisa diandalkan, namun untuk menyusuri jalan raya samapi kelok ampek puluh ampek yang terkenal itu dibutuhkan keahlian khusus pengemudi dan kondisi mobil yang prima untuk melaluinya. Setelah kami beristirahat sejenak tujuan lain menanti. Pantai air manis yang melegenda menunggu kami !

Pantai air manis adalah tujuan wisata yang terkenal dari zaman dahulu, tak lain dan tak bukan karena dongeng legenda malin kundang yang sangat terkenal. Pantai ini bisa dicapai dari pusat kota padang dalam tempo waktu satu jam dengan jarak tempuh sekitar empat puluh kilometer denga mobil pribadi, kami menggunakan APV dalam perjalanan kali ini. Medan yang cukup berliku mengingatkan kami akan perjalanan ke palabuhan ratu di tanah jawa. Jalan yang hanya satu jalur dan ancaman longsor yang mengintai serta musim hujan yang deras membuat perjalanan kami mengasyikkan sekaligus menegangkan. Perjalanan menuju ke pantai air manis juga tak mencerminkan ia sebagai tujuan wisata legendaries.

Jalan yang sangat kecil dan tak adanya rambu-rambu yang cukup jelas membuat kami beberapa kali salah belok, bayangkan saja tanda menuju pantai itu sendiri hanya terbuat dari tripleks kayu putih dengan tulisan dibuat dari cat merah dan dikerjakan secara manual. Betul-betul sederhana kalau tak boleh dibilang memprihatinkan. Salah satu bukti telah terkuak, bahwa pariwisata kita memang belum digarap secara professional, tak ada dana atau memang tak serius? Begitupun ketika saya dan keluarga masuk ke pantai, dari tiket masuk yang lebih tepat disebut iuran preman sampai parkir tanpa tiket kami temui di objek wisata ini. Ke pantai air manis tentu saja tak afdhol jika tidak melihat sendiri bukti keajaiban alam nan melegenda. Batu malin kundang !

Batu ini terletak di ujung pantai air manis, seperti legendanya ia merupakan sebuah batu dengan tampak seperti seorang yang sedang bersujud bersimpuh penuh rasa penyesalan diatas sebuah bangkai perahu yang terkoyak menjadi dua bagian. Batu malin kundang sendiri terletak di bagian depan dari onggokan kapal yang telah membatu. Yang mengherankan saya adalah detail batu malin yang benar-benar menyerupai seorang manusia yang sedang bersujud, kotak-kotak harta sang saudagar yang ingkar pada orangtuanya, dan juga bangkai kapal yang telah membatu ternyata terlihat sekali rusuk-rusuk penyangga kapal dan bentuk haluan depan kapal yang meruncing. Dalam hati saya menyimpan percaya atas legenda asli minang ini.

Yang patut disayangkan adalah tidak adanya kepedulian pemerintah minang akan objek wisata ini. Batu malin kundang yang asli lama kelamaan terkikis oleh laut, angin, serta hujan. Memang, ada beberapa upaya pelestarian batu ini yang dapat dilihat oleh mata, misalnya adalah dengan melapis batu dengan semen baru. Namun akibatnya bentuk alami dari batu itu kini menjadi seolah-oleh terlalu dibuat-buat. Terkesan terlalu detail dan tak lagi alami, belum lagi pantai yang penuh dengan sampah organik yang meski berasal dari pepohonan sekitar pantai, tapi terkesan berantakan dan mengurangi keindahan pantai yang sebenarnya menyimpan potensi luar biasa ini.

Bagaimana tidak, kombinasi antara legenda dan panorama alam eksotis khas minang ini seharusnya bisa bahu membahu untuk dimaksimalkan demi meraup devisa negara. Entahlah, yang pasti hari sudah menjelang sore dan tibalah waktunya kami untuk beristirahat dan kembali ke hotel kami.

Setelah kami membersihkan diri kami lalu bersiap untuk mencari makan malam. Oya kalau di Jakarta tersebar banyak sekali rumah makan padang, di kota padang sendiri jarang sekali terlihat rumah makan yang berlabel padang. Disini rumah makan tidak dilabeli embel-embel padang, tapi bernama bufot dan dengan merek lain setelahnya, dari yang paling terkenal yaitu sederhana sampai kepada rumah makan bermerek pribadi. Tapi kali ini kami tidak makan di rumah makan padang, kami memilih untuk makan di restoran cepat saji di plasa andalas, yang masih satu jalur dengan minang plaza.

Modernisasi juga telah menyentuh kota yang punya slogan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah ini. Sebagai catatan, baru saya temui sebuah hotel yang meletakkan Al-Qur’an di meja sebelah tempat tidur. Belum lagi sapaan salam khas islam yaitu assalamu’alaikum setiap kali seorang roomboy atau pegawai hotel menyapa kami. Menandakan bahwa benar adanya bahwa minang adalah kota yang sangat kental dengan budaya islami. Meski akhir-akhir saya dengar bahwa muda-mudi di padang tak lagi memegang teguh ajaran agamanya. Banyak mereka yang bahkan keluar dari agama islam untuk menikah dengan pria atau wanita yang berbeda agama.

Well, mungkin ini hanya sekedar khayalan saya saja, tapi memang -pendirian mal-mal dan masuknya budaya barat yang gencar telah merubah penampilan para wanita di padang. Yang tadinya anggun dengan jilbab rapi menutup aurat kini mulai tergerak untuk melepas jilbabnya untuk menggantinya dengan pakaian yang ‘katanya’ modern dan sangat mengekspresikan wanita, yaitu terbuka dan ketat. Sayangnya, sekali lagi, saya hanyalah seorang turis disini yang hanya melihat kulit tanpa mengamati lebih dalam.

Penuhnya perut membuat kami tak lagi punya hasrat untuk menjelajah kota ini, haripun kami tutup dengan kembali ke hotel dan bersiap menemani mentari yang sudah sedari tadi tidur pulas di haribaan sang bunda pertiwi.

wassalam

-al fakir ad dhaif-

-alkindi-

~ oleh varendy di/pada Mei 31, 2008.

2 Tanggapan to “Tengok Nagari (Day 1)”

  1. ceritanya seruuuuuuuuuu
    asyik ya barenng keluarga. penuh kejutan.
    wah, cut pernah tu mendaki gunung untuk mencapai pantainya. keren ^_^

    iya bener banget nggak di rawat. seharusnya ada pelestariannya.

  2. yap, betul banget, pantai minang memang dekat dengan gunung, kalo mau ngebahas lebih lanjut mah bisa jadi satu tulisan lagi, he3

Tinggalkan Balasan