Perspective

assalamu’alaikum

selamat siang dunia!

pernahkah anda mengendarai motor di jalan raya? pastinya bagi sebagian orang yang memiliki kendaraan beroda dua akan menjawab “ya iyalah, masa ya iya donk” :) well, saya pun juga sering mengendarai kendaraan itu. namun saya termasuk orang yang cukup beruntung (paling tidak buat saya pribadi :) ) karena telah bisa merasakan berkendara dengan motor dan mobil.

sebagai pengendara motor saya memang termasuk aliran kontemporer (apaan tuh?), pada kondisi normal, saya akan mengendara motor dengan kecepatan sedang, namun bila ada suatu hal yang membuat emosi saya menjadi naik, biasanya laju kendaraan akan bertambah cepat seiring dengan mengencangnya tarikan gas di tangan kanan saya. maklum anak muda. he3x. bersamaan dengan itu fokus pandagan menjadi terarah ke kendaraan yang tadi telah berbuat seenaknya dan tak memikirkan yang lain.

pada kondisi ini, ternyata skill mengemudi saya simultan menjadi bertambah beberapa kali lipat, begitu juga dengan nyali, dan logispun tercampakkan. menyalip dari kiri dan memotong jalan seenaknya, mepet dengan mobil dan sewaktu-waktu berubah arahpun tak jarang saya lakukan. menurut saya sewaktu mengendara motor, hal itu sah-sah saja. hal itu terus menerus tertanam dalam benak saya, sampai ketika sebuah peristiwa akbar (rada hiperbol yah :) ) merubah pandangan saya itu.

peristiwa itu tak lain dan tak bukan adalah ketika saya ditawari mengendara mobil oleh salah satu kolega. memang ini bukan kali pertama saya memegang mobil. saya sudah pernah diajari oleh instruktur beberapa waktu silam, namun memang lebih banyak berkutat di jalan tol saja.

kali ini beda, saya ditawari (mungkin lebih tepatnya ditantang) untuk membawa mobil menuju kawasan jakarta timur. bagi teman-teman yang familiar dengan industri kulit kecil kelas rumahan yang berada di jakarta timur pasti tau tempat ini. mulailah saya mengengendara dengan asyiknya. seperti pada awalan semua hal. segalanya berlangsung mulus dan tanpa hambatan berarti.

sampai ketika saya memasuki kawasan yang padat. tiba-tiba dari belakang saya arah kiri. menyusul motor dengan kecepatan yang tinggi. saya yang super kaget segera membanting stir kearah kanan. tak disangka, dari arah kanan juga motor mendahului saya dengan klakson yang memekakkan telinga. saya panik bukan kepalang, untungnya teman saya segera mengambil alih kemudi dan menenangkan saya. “relax, everything is under control” katanya dengan senyum tenang. tapi kejutan terus datang, kejadian itu tak hanya berlangsung sekali, tapi berkali-kali dalam perjalanan saya menuju jakarta timur.

mau tak mau sayapun banyak marah kepada para pengendara motor itu. bukan karena apa-apa, saya marah karena saya merasa ngeri akan kelakuan mereka. bagamana bila mereka tertabrak oleh mobil saya? bukankan mobil selalu saja akan aberada di pihak yang salah jika menabrak motor ataupun orang, meskipun misalnya orang tersebut menyeberang di tempat yang tak semestinya, ataupun dalam kasus lain motor yang memang memotong jalur mobil.

begitulah adanya realitas yang terjadi, dalam kesempatan ini saya tidak ingin men-judge bahwa motor itu salah atau lain sebagainya, namun saya hanya ingin menggarisbawahi tentang bagaimana sebuah kejadian jika disikapi dalam perspektif berbeda. ternyata hasilnya juga akan berbeda, bahkan bisa saja menimbulkan kesimpulan baru yang diluar dugaan.

dalam kasus kita kali ini, adalah tentang bagaimana berkendara sebagai pengendara motor dan sebagai pengendara mobil. tentu saja bukan pembaca yang menjadi target saya, tapi juga diri saya pribadi, tak lain adalah karena pernah merasakan berada di sarana yang berbeda, meski tempatnya tetap sama. ternyata benar bahwa semua hal itu adalah relatif, namun akan jadi sebuah hal yang sangat baik jika kita bisa merasakan keduanya secara sekaligus. kita akan jadi pribadi yang lebih bijak dalam menghadapi segala sesuatu. 

bayangkan para pengungsi palestina yang rumahnya kini tergusur dan harus hidup dalam belas kasihan orang lain, atau rasakan derita para korban perang georgia yang hidup dalam kecemasan? bagaimana dengan para fakir miskin yang penghasilannya hanya bisa untuk menghidupi 24 jam hidupnya? apa kita tetap akan bisa memandang remeh uang lima ratus rupiah kalau kita ada berada dalam posisi mereka?

harapan saya memang tidak terlalu tinggi kepada para pembaca, saya tidak mengaharapkan teman-teman semua akan langsung bisa menjadi bijak dalam menghadapi kehidupan ini. tapi paling tidak kita bisa jadi lebih bijak dalam berkendara ketika naik motor. :)

wassalam

-al fakir ad dhaif-

-alkindi-

~ oleh varendy di/pada Agustus 29, 2008.

Tinggalkan Balasan