We’re An Animal . . .
assalamu’alaikum
selamat sore dunia !
banyak orang yang menganggap bahwa kecerdasan intelegensi adalah segalanya. para mahasiswa dengan indeks prestasi yang berkisar angka tiga merupakan jaminan mutu akan kinerjanya dalam dunia kerja. sedangkan mahasiswa dengan indeks prestasi yang lebih kecil dari itu merupakan pekerja dengan kualitas kelas dua, bagaimana dengan pekerja dengan indeks prestasi yang lebih kecil lagi? silahkan tebak sendiri karena saya tidak mau dituduh sebagai tukang cap kualitas orang.
didunia industripun tak jauh berbeda. mari kita lihat iklan berikut ini. dibutuhkan karyawan dengan indeks prestasi kumulatif 3.00. dari jurusan teknik industri dan dari universitas ternama. mungkin itu adalah sebagian dari syarat yang mereka tentukan dalam sebuah organisasi, saya tidak menganggap hal itu tabu. mungkin sudah adat dari industri yang selalu menginginkan input terbaik dengan bayaran terendah. yang hendak saya bahas disini adalah kekuatan emotional quotient dan bagaimana ia mempengaruhi kita di kehidupan sehari-hari. stay tuned . . .
suatu hari saya sedang asyik berwarnet ria. tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara seorang laki-laki yang kelihatannya sangat marah. ia berteriak-teriak dengan lantang seakan menentang angkara yang sedang murka. ternyata ia sedang membentak-bentak orang sekitar warnet. dalam hati saya terbersit tanya. what is happening here? sang penjaga warnet dan si lelakipun berseteru hebat bahkan sudah hampir pukul-pukulan. setelah ditelusuri ternyata pangkal masalahnya adalah karena salah paham saja, pacarnya dianggap telah berslingkuh dengan pria penjaga warnet (come on . . ., ga mutu banget selingkuhnya, he3x)
next time saya sedang berjalan-jalan menaiki sepeda motor saya (harusnya mengemudi), saya berjalan dengan kecepatan sedang sementara saya biarkan mereka mendahului saya. lalu dikejauhanterlihat orang-orang berkerumun, segera saya tepikan motor saya, dan langsung menyeruak ketengah orang-orang itu. ternyata dua orang pria sedang saling baku hantam. dengan heran, saya bertanya kepada orang-orang yang terlebih dahulu ada di tempat itu. sebabnya simpel, cuma karena mobil yang belakang menyodok mobil depan dan membuat catnya terkelupas dan body mobil jadi penyok.
sebenarnya pengemudi yang dibelakang sudah ingin berdamai dan mengganti kerusakan/ namun karena amarah pengemudi yang depan segera larut dan menghajar pengemudi belakang dengan serunya. akibatnya mereka berdua pulang dengan wajah lebam dan mobil yang penyok. childish isn’t it? but its a real true story.
well, that was human. menurut salah satu orang bijak tempo doeloe. manusia pada dasarnya merupakan seekor binatang. dia punya nafsu dasar sebagai layaknya seekor binatang, kebutuhan dasar seperti makan, minum, dan lain sebagainya, organ-organ fisik, dan nafsu. persis sama seperti binatang. lalu apakah yang membedakan manusia dengan binatang? yap, betul sekali, tak lain dan tak bukan adalah akal budi.
dengan akal budi, seorang manusia menjadi jauh lebih tinggi dari binatang, ia bisa membedakan dengan mudah yang mana kegiatan yang baik baginya dan yang buruk bagi dirinya. akal budi ini bersifat suci murni. jika pada masa awal hidup manusia akal budi diisi dengan kebaikan dan contoh yang baik, maka sampai matipun ia akan terus membekas. meski bisa saja dalam hidupnya ia melakukan kegiatan yang salah, tapi akal budinya akan menentangnya selalu. namun ia bisa saja terpengaruh oleh lingkungan. jika lingkungannya selalu dalam keadaan terpelihara. maka akal budi akan juga terpelihara.
bagaimana jika akal budi sudah tak lagi diindahkan? maka nafsulah yang akan berperan aktif dalam mengontrol tingkah laku seorang manusia. akibatnya bisa ditebak, hanya kehancuranlah opsi yang tersedia. tak ada kompromi! mengapa? tak lain karena memang fitrah nafsu yang selalu minta untuk dipenuhi keinginannya dengan cara apapun. bukan hanya itu. nafsu juga akan meningkatkan standar kepuasannya ke tingkat yang lebih tinggi jika ia sudah dipenuhi. hal ini tentunya akan sesuai dengan hukum ekonomi tentang kepuasan manusia (kalau tidak salah nama perumusnya adalah gossen).
misalnya seorang yang memimpikan untuk makan bubur ayam dan selama ini dia tak pernah mendapatkannya. lalu apa yang terjadi ketika ia mendapatkannya? pastinya ia akan sangat senang dan menyantap bubur itu dengan penuh minat. namun bila setiap hari ia sarapan dan makan malam dengan bubur ayam, apa yang akan terjadi? pastinya minat ia menyantap bubur ayam akan menurun dari hari ke hari (kecuali dalam kasus ekstrim seorang maniak bubur ayam), dan pada akhirnya ia tak akan mau menyantap bubur itu lagi, membuangnya, bahkan membencinya. begitulah standar kepuasan nafsu, terus menaik ketika ia dipuaskan.
begitulah peranan sang akal budi, cukup penting bukan? sekarang semua saya kembalikan kepada pembaca, apakah anda mau bergantung pada nafsu alih-alih mengendalikannya? hmm . . . kalau memang begitu berarti anda adalah seekor hewan sejati. well, maybe we’re basiccally a walking animal with special priviledges, huh?.
wassalam
-al-fakir ad-dhaif-
-alkindi-


woiiih…, bagus om. Keren gaya bahasa n penulisannya..
two thumb..