Alone in a Riot

assalamu’alaikum

selamat sore dunia!

saya hanya berharap teman-teman sekalian yang berkunjung tidak bosan berkunjung, dan terus memberikan semangat bagi diri yang fana ini, untuk terus mengetukkan jari pada tuts keyboard dan terus berkarya, meski mungkin dunia tuli akan kehadiranmu. tetap bersama saya ya?

jujur saja, akhir-akhir ini saya merasa sangat kesepian, karena kutuliskan puisi ini.

sepi, sendiri
segala yang ada di sisi
terasa makin tak berarti
lagi dan lagi

sepi, menyelimuti
raga yang rapuh
jiwa yang kering
semakin menjadi

sepi, disini
raga yang merindu cinta suci
hingga kini tak mau peduli
tolehkan wajah,
timbulkan sakit tak terperi

sepi, kembali
aku ingin kembali
menjadi dzarrah yang tak berarti
pasrah akan kehendak-Nya

sepi, menanti
menunggu sahabat sejati
yang tak lekang oleh waktu
yang tulus menggenggam hati
dengan senyum yang selalu dinanti

sepi, menjadi
ketika diri dibekap sunyi
hanya hati sebagai lentera
menerangi jalan yang penuh
menjadikan diri semakin menjadi sepi
kini dan nanti

aku masih disini
sepi, sendiri
sepi, menyelimuti
sepi, kembali
sepi, menanti
sepi, semakin menjadi

wassalam

-al fakir, ad dhaif-
-alkindi-

~ oleh varendy pada Juni 20, 2010.

4 Tanggapan to “Alone in a Riot”

  1. wahwah…

    keren banget puisinya…

    makasih udah di posting…

    salam hangat….

  2. sama…me too,, >.<

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.