Cycle of Life

assalamu’alaikum

selamat malam dunia !

senangnya bisa menulis kembali, lebih dari setahun saya terbelenggu dengan rutinitas yang seolah tanpa akhir. well, itulah dilema hidup, terkadang melakukan yang kita sukai artinya harus rela dengan hidup sederhana, karena kemungkinan hasil yang didapat tidak akan signifikan. tapi saya percaya, bahwa tuhan maha adil, ia akan memberikan sesuatu bagi umatnya yang tekun dalam berusaha. tul?

kali ini, mungkin saya akan berusaha menulis tentang sesuatu yang simpel, sesuatu yang mungkin akkrab dengan kehidupan kita sehari-hari, yaitu tentang cycle of life, siklus kehidupan, stay tuned

bagi sebagian besar dari manusia, kehidupan adalah tentang momen, ketika kita masih bernafas dan hidup dalam cairan, makan dan minum juga dalam cairan, tersuplai dengan baik dan selalu terpenuhi, apa yang kita inginkan selalu ada. itulah masa-masa yang ditulis dalam buku-buku kedokteran sebagai fase pra-kehidupan, atau masih berupa fetus, janin, calon bayi, atau apapun namanya. dan kita hidup dalam zona nyaman itu selama ratusan hari. well, seiring dengan berjalannya waktu, kitapun dipaksa untuk keluar dari zona nyaman itu, untuk mengemban tugas sebagai wakil tuhan di muka bumi ini.

itulah fase kedua, fase dimana kita terbuang dari segala ayang selalu bisa kita dapat, dan mulai mendapatkan penderitaan pertama kita, tak heran memang, ketika kita keluar dari segala bentuk kemapanan itu, kitapun meneteskan H20 pertama kita, dan ia mulai bercucuran, ditambah lagi dengan terproduksinya getaran pertama dalam pita suara alami kita, dan kita mulai berteriak. sungguh merupakan sebuah respon yang sangat wajar bukan? bahkan para dokter menganggap luapan emosi pertama yang wajar pada seorang bayi adalah tangisan, mereka menganggap menangis adalah luapan emosi dasar dari manusia. maka alangkah mulianya, jika kita sering menangis, mengingatkan kita akan awal penciptaan kita, yang sangat tak berdaya dan ultra lemah.

fase ketiga, merupakan fase yang penuh dengan cinta, kasih sayang, dan perhatian yang penuh dari malaikat pelindung kita, fase pertumbuhan, dimana semua yang kita alami selalu merupakan keajaiban bagi mereka yang peduli. bahkan bertambahnya berat badan merupakan sebuah berkah yang tak terkira bagi orangtua kita, sebuah keriput halus yang menghilang dalam hitungan tahun, berubah menjadi kulit yang kencang merupakan sebuah hal yang wajar, sebuah ironi, karena di fase remaja dan dewasa, hal itu merupakan aib yang tak terperi dan tak termaafkan.

selanjutnya, fase anak-anak, fase yang penuh dengan warna dan keceriaan, dimana kita selalu mendapatkan informasi dan mempelajari segala sesuatu yang baru setiap saat, saat dimana kita tak lagi takut untuk mencoba, bahkan didorong sepenuh hati oleh orang-orang disekitar kita, “jangan takut”, “jangan menyerah”, “ayo, coba lagi”, “pintar”, kata-kata penuh motivasi, positif, dan sangat membangun itu menjadi asupan dalam keseharian hidup kita, sebuah langkah kecil tertatih adalah keajaiban bagi semua. dalam fase ini kita mencoba sendiri semuanya, dan tak pernah takut akan kegagalan, apalagi putus asa. well, dapat dibayangkan bila seorang anak yang sedang berusaha berjalan, tiba-tiba terjatuh, dan kapok untuk mencoba berdiri lagi.

waktu berjalan dengan cepatnya, hingga kitapun beranjak remaja, bertransformasi menjadi pribadi yang baru, fase dimana segala sesuatu yang sejak kecil ditanamkan kepada diri kita, meresap dengan cepat, dan menguap ke udara, waktu dimana kita ingin lepas dari segala sesuatu, dan menjadi orang yang baru, “peduli setan dengan segala aturan yang berlaku, mereka adalah belenggu”, pikir kita, juga kemungkinan besar kita kembali berpikir sebagai anak-anak, menyerap segala sesuatu baik yang positif maupun yang negatif, namun bertubuh dewasa. dan lingkungan menjadi dalai lama bagi kita, seakan itulah yang paling bijak. juga dimana kita mengecap rasa yang asing bagi jiwa, yaitu rasa cinta. yang jika tak dijaga dengan baik, ia akan berubah menjadi pemuasan nafsu belaka, bak serigala lapar yang didepannya tersaji daging segar. fase ini, fase yang sangat berbahaya, dan dapat menjadi patokan seumur hidup kita, jika dalam fase ini lingkungan kita tak stabil, mendapat inputan yang buruk, dan kebaikan menjadi hal yang tabu, maka bencana pasti akan terjadi di sisa perjalanan kita.

perjalanan berlanjut, menuju fase dewasa, dimana dalam fase ini, kita justru sering kehilangan nilai-nilai yang pernah kita dapat, kita yang dari awal memang ditakdirkan untuk menderita, seringkali mengeluh, tentang materi yang tak seberapa. kita yang dahulu dididik dengan kata-kata positif begitu mudah menyrah cuma karena kita selalu menerima, padahal kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, bukan? kitapun semakin egois dan apatis, lebih ingin bermasturbasi, memuaskan diri sendiri dan cuek dengan keadaan orang lain, tak seperti fase remaja, yang menuhankan lingkungan dan teman, dalam fase ini tuhannya adalah ego kita sendiri.

kemudian berkhirlah fase dewas dan kita mulai kembali ke fase tua, dimana didalam fse ini, segala daya upaya, kemampuan fisik yang kita agungkan, tak yang encer, kemashyuran, popularitas, harta, anak-anak yang kita cintai, segalanya akan lenyap, dan kita kembali sendiri. kelamahan, keriput, ketakmampuan, semua muncul dengan sangat cepat, dan kita kembali ke fase anak-anak lagi, bedanya, hanya bedanya tak banyak yang mau membantu kita lagi.

begtulah sekelumit lingkaran kehidupan yang semu, dan sangat singkat, pertanyaan besar yang mengemuka adalah, apa yang hendak kita tinggalkan untuk dunia ini, untuk negara kita tercinta, banga kita, keluarga kita, atau bahkan untuk diri kita sendiri, dan mulailah menjernihkan diri, wahai pikiran yang ternoda oleh kemilau dunia.

wassalamu’alaikum

-alkindi-

Iklan

~ oleh varendy pada Juni 6, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: