Ramadhan’s Diary : The Humble Leader

asalamu’alaikum

selamat malam dunia !

kemarin resmi sudah umat islam memasuki bulan cinta, apa lagi kalau bukan ramadhan, well ternyata, memang ramadhan sebuah bulan yang super istimewa. paling tidak saya telah membuktikannya sendiri. penasaran? just don’t takes your eyes off this page, will ya?

malam pertama tarawih, saya langsung disuguhi pelajaran berharga, bahwa ternyata seorang pemimpin, bagaimanapun idealnya haruslah selalu merupakan refleksi dari bawahan atau rakyatnya, begini ceritanya

semuanya berjalan normal, seperti biasa, saya menunaikan ibadah tarawih, di mushola kami, formatnya adalah 2-2-2-2-3, yang terakhir adalah witir pastinya, sampai di rakaat keenam, seharusnya imam kembali berdiri, namun sebagian besar jamaah tetap duduk, meski ada juga yang berdiri. berkali-kali kata-kata “Subhanallah” dikumandangkan, imam yang ragu pun berdiri untuk membaca satu ayat saja, “Bismillahirahmanirrahim”, namun kumandang Subhanallah tak urung membuat ia kembali duduk dan bertahiyat, kemudian salam.

namun apa yang terjadi? dengan penuh ketenangan dan ringan hati, sang imam berdiri untuk kemudian berkata pada jamaahnya. “Gapapa, muhammad beneran aja masih suka salah, apalagi muhammad subhan”, meski yakin dialah yang benar. hanya satu pikiran yang langsung melintas dikepala saya.

adalah ketika pada zaman rasulullah, para shabat dan rasulullah berkumpul untuk mendiskusikan strategi dalam mengahadapi sebuah perang (maaf saya lupa namanya, ada yang bisa bantu?). malam sebelumnya rasul bermimpi (yang saya juga lupa isi persisnya, bantu donk!) bahwa sebaiknya kamu muslimin bertahan saja di mekkah dalam menghadapi taktik kaum Quraisy, anggapannya adalah kaum muslimin akan lebih aman di mekkah dibandingkan menyongsong musuh keluar mekkah.

para sahabatpun setuju, meski pendapat yang berseberangan tak kalah mayoritas, singkat kata akhirnya bersadarkan konsensus yang alot, rasul memutuskan untuk keluar berperang menyongsong musuh dibandingkan bertahan di mekkah, meski pada akhirnya kaum yang berpendapat demikian akhirnya berubah pandangan karena sadar bahaya yang akan dihadapi, namun apa yang rasul katakan?

beliau berkata, “tidaklah pantas seorang rasul yang telah mengeluarkan pedang dari sarungnya untuk menyarungkannya kembali”. hasil akhir perang tersebut bisa ditebak, umat islam kalah dan terpukul mundur kembali ke mekkah.

namun kata-kata rasul yang penuh dengan harga diri itu telah menjadi legenda, bahwa tak layak pemimpin yang notabene diangkat oleh rakyatnya sendiri tidak mengikuti dan menghargai aspirasi dari bawahannya, dan yang paling penting, tidaklah layak seorang pemimpin untuk bersikap plin-plan meski segala sesuatu pasti ada resikonya.

wallahu’alam bishshowab

wassalam

al-fakir ad-dhaif

alkindi

Iklan

~ oleh varendy pada Agustus 11, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: