Ramadhan’s Diary : The Humble Servant

assalamu’alaikum

selamat malam dunia!

rasanay semangat menulis saya sedang cukup tinggi, aka dari itu harus segera dimanfaatkan untuk menulis sebanyak-banyaknya. he3x, btw, kali ini masih dalam tema ramadhan’s diary, hari kedua tarawih atau hari pertama shaum ramadhan dijalani, ada hal menarik yang bisa saya angkat dalam tulisan ini, meski jauh dari original, tapi paling tidak diharapkan bisa menjadi inspirasi untuk para pembaca setia blog ini.

cerita ini sendiri berawal pada masa generasi tabi’in, artinya generasi setelah para sahabat utama berkuasa. alkisah di sebuah kota hiduplah seorang pemuda, dia adalah seorang pemuda yang sangat taat beribadah dan baik akhlaknya. ia seorang pemuda yang menarik hati siapapun yang melihat, meski ia tetap sederhana.

waktu demi waktu pun berlalu, sang pemuda kini telah selesai lulus dari pesantren setara SMU, maka layaknya pemuda yang baru lulus ia berharap segera bisa bekerja, lamaran kerjapun dilayangkan ke banyak perusahaan, sayang tak ada yang sukses. tanpa putus asa, pemuda ini terus berusaha, mendatagi bukan hanya perusahaan, tapi juga para pengusaha dan saudagar kaya.

setelah hampir putus asa, pemuda itupun bertandang ke rumah seorang saudagar dagang kaya, gayungpun bersambut, meski menerima pemuda itu lebih karena kasihan, pemuda itupun diterima dan ditempatkan di kebun anggur milik saudagar kaya, tugasnya mudah. ia diwajibkan menjaga kebun anggur itu dan merawatnya dengan baik.

hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, tak terasa sudah lima tahun pemuda itu bekerja di kebun anggur, tanpa pernah didatangi oleh saudagar kaya, meski tetap digaji, sang saudagar hanya tercatat sekali itu saja mengunjungi kebunnya.

lalu pada suatu hari yang cerah, sang saudagar hendak melihat kebunnya sejak lima tahun terakhir. dilihatnya pepohonan anggur yang rimbun dan segar, maka terbitlah laparnya. disuruhnya sang pemuda untuk mengambilkannya anggur.

“Hai pemuda, kulihat kau telah merawat dan menjaga kebun ini dengan baik, semuanya terlihat sangat ranum dan segar, maka ambilkanlah aku satu anggur yang termanis dari kebunku”. sang pemuda bergegas untuk memilih dan langsung kembali dengan cepat

“tuanku, inilah anggur pesananmu, semoga berkenan” jawabnya cepat

namun ketika sang majikan memakan anggur itu, lidahnya merasakan asam alih-alih manis.

“bagaimana kamu ini? anggur yang kamu pilih berasa asam sangat, bukankah tadi sudah kubilang untuk mengambil anggur yang manis? sekarang kau ambil sekali lagi anggur yang terbaik, segar, dan termanis untukku, dan jangan salah lagi!”

seperti tadi, langkah sang pemuda makin bergegas dari sebelumnya, iapun kembali dengan anggur yang lebih meyakinkan, namun raut muka sang majikan tampak semakin marah.

“kamu ingin menghina saya ya? kenapa anggur yang ini malah lebih asam dari yang tadi? apa kamu tidak mendengar perintahku? ambil anggur yang termanis untuk saya, bukan yang asam!”

sang pemuda engan lirih, terbata-bata dan penuh rasa sesal berkata “maaf tuan, saya tidak tahu mana anggur yang manis di kebun ini”

“bagaimana kau bisa tidak tahu, sedangkan sehari-hari hanya kau yang berhadapan dengan kebun anggur ini?”

“saya benar-benar bersumpah tidak tahu pak, sesuai dengan perjanjian kerja kita lima tahun lalu, tugas saya hanya menjaga dan merawat kebun anggur ini, selama lima tahun ini itulah yang saya kerjakan, saya tidak berani untuk merasakan anggur tuan, walau hanya sebutir saja”

sang pemilik kebun terbelalak akan kejujuran pemuda itu, alhasil karena melihat akhlak pemuda itu, akhirnya ia dinikahkan dengan putrinya yang cantik jelita, solehah, dan mewarisi kekayaan sang majikan. dari rahim istrinya tersebut lahirlah seorang mujaddid besar bernama Abdullah bin Mubarok.

sungguh sebuah harta yang mungkin dimasa kini telah terkubur dalam-dalam, ada dalam diri seorang Mubarok, sebuah harta bernama kejujuran dan kesolehan.

wassalam

al-fakir ad-dhaif

alkindi

Iklan

~ oleh varendy pada Agustus 11, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: