Istiqomah alias konsisten

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat Sore Dunia !

Pasti sudah banyak yang paham dan mengerti arti dari judul saya diatas, yap, istiqomah atau biasa di’bahasa’kan sebagai konsisten, meskipun saya sendiri justru kurang setuju atas pem’bahasa’an tersebut. Karena menurut saya kok jadi sempit ya artinya istiqomah jika diartikan konsisten, tanya saja pada para ustadz.

Simpel tapi tidak mudah untuk dilaksanakan. Begitulah kira-kira ‘makhluk’ bernama istiqomah ini, kenapa?

karena memang secara manusiawi, kodrat manusia adalah sebagai makhluk yang tidak stabil, ups maaf kalau ada yang tersinggung. Saya akan ganti menjadi dinamis, biar lebih ‘halus’. Yep, dilihat dari materi penciptaan, secara fisik dulu ya. Tubuh manusia 70-80% tubuh kita terdiri dari cairan sebagai bahan pembentuknya. sedangkan cairan bersifat mudah berubah bentuknya sesuai wadahnya. Sifat yang lainnya adalah selalu bergerak mencari tempat yang lebih rendah. Nah, kelihatankan sudah? Kembali lagi ke pembahasan awal, artinya air secara umum bersifat dinamis.

Secara biologis manusia juga dibentuk dari kumpulan protein dasar yang saling terhubung satu dengan yang lainnya sehingga membentuk jaringan dan molekul, mereka inipun secara dinamis menjadi pembentuk sel-sel tubuh kita namun secara konsisten (aha!) membentuk jaringan yang nantinya menjadi sistem, sebutlah sistem syaraf, pencernaan, pernafasan, de el el. Kata kuncinya adalah dinamis (karena mereka bergerak) namun berusaha untuk konsisten (satu tujuan) untuk membentuk sebuah sistem yang saling mendukung didalam tubuh seorang manusia.

Mungkin inilah yang disebut sebagai hawa nafsu, karena ia terlalu dinamis, sehingga selalu menjurus ke hal-hal yang nggak bener. Subhanallah, maha suci Allah yang memang selalu menyeru hambanya untuk bisa mengontrol hawa nafsunya. Bahkan Ia sendiri yang menyebut via rasulnya bahwa perang yang takkan berakhir adalah perang melawan hawa nafsu sendiri. Perang melawan takdir para molekul yang memang dinamis. Bersujudlah hanya kepada-Nya kawan.

Nah beberapa fakta diatas menunjukkan bahwa manusia memang dibuat dan bekerja secara dinamis, dan cenderung labil. Karenanya Allah menciptakan istiqomah sebagai tantangan bagi umat manusia. Secara gitu tubuh kita tersusun dari banyak hal yang dinamis, tapi kita di’paksa’ istiqomah. Makanya akan sangat sulit bagi seorang manusia untuk bisa istiqomah dalam jangka waktu yang lama, wong memang dasarnya diciptakan dari bahan-bahan yang labil kok.

Makanya Allah akan mengganjar hamba-hambanya yang bisa istiqomah dalam kehidupan sehari-hari baik untuk ibadah maupun muamalah dengan ganjaran yang besar, yaitu menjadi orang-orang yang beruntung. Tinggal balik lagi ke kita pribadi aja, mau nggak dapat ganjaran langsung dari Allah seperti itu? atau malah kita mau ngikutin asal mula kita, yang memang selalu dalam kondisi ‘galau’?.

Gunung Putri, 11-Juli-2014

Wassalam

Ayyash Alkindi

Source :

https://varendy.wordpress.com
https://varendy.blogspot.com
https//varendy.multiply.com

Iklan

~ oleh varendy pada Juli 11, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: